Asal-Usul Nama Glodok, dari Kucuran Air Penampungan Kali Ciliwung

Jum'at, 25 November 2022 - 06:01 WIB
loading...
Asal-Usul Nama Glodok, dari Kucuran Air Penampungan Kali Ciliwung
Seorang pengendara bajaj tengah menanti penumpang di kawasan Glodok, Tamansari, Jakarta Barat. Foto: Ilustrasi/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Glodok merupakan salah satu kelurahan di wilayah Tamansari, Jakarta Barat . Namun, saat ini dikenal dengan Pecinan. Alasannya, banyak masyarakat Tionghoa beraktivitas di wilayah tersebut.

Bahkan, masyarakat Tionghoa itu banyak yang menjadi wiraswasta maupun berjualan di sekitar wilayah Glodok. Kawasan ini juga dikenal sebagai pusat perbelanjaat elektronik. Namun, kini kian sepi semenjak dilanda pandemi Covid-19. Baca juga: Aktivitas Sentra Perdagangan Glodok Berjalan Seperti Biasa

Meski sudah dikenal oleh masyarakat luas. Tapitahukah Anda asal usul nama Glodok?

Mengenai asal-usul nama kawasan ini, terdapat beberapa pendapat. Ada yang mengatakan Glodok berasal dari kata “grojok”, onomatopi suara kucuran air dari pancuran. Hal ini cukup masuk akal.

Asal-Usul Nama Glodok, dari Kucuran Air Penampungan Kali Ciliwung


Karena, di wilayah ini pada saat itu terdapat sebuah waduk penampungan air dari Kali Ciliwung yang dikucurkan dengan pancuran terbuat dari kayu dari ketinggian kurang lebih 1o kaki. Dikutip dari buku Asal-Usul Nama Tempat Di Jakarta, kata grojok diucapkan oleh orang Tionghoa totok, penduduk mayoritas kawasan itu zaman dahalu, berubah menjadi nama Glodok sesuai dengan lidahnya.



Meski demikian, ada juga yang menyebut, kalau kata Glodok diambil dari sebutan sebuah jembatan yang melintasi Kali Besar (Ciliwung) di kawasan itu, yakni Jembatan Glodok. Disebut begitu lantaran di ujungnya ada tangga-tangga yang menempel pada tepi kali.

Tangga-tangga itu digunakan untu warga sekitar mandi dan mencuci. Dalam Bahasa Sunda, tangga itu disebut “golodok”, sama seperti sebutan bagi tangga rumah. Baca juga: Jelajah Kuliner Enak di Daerah Glodok!

Saat itu, mandi di kali bukan hanya kebiasaan masyarakat pribumi saja. Tapi, kebiasaan masyarakat pada umumnya, termasuk orang Belanda yang berkedudukan tinggi atau pejabat pada saat itu.
(mhd)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.0983 seconds (10.177#12.26)