2 Polisi Penembak 6 Laskar FPI Divonis Bebas, PA 212: Keadilan Telah Mati

Minggu, 20 Maret 2022 - 09:00 WIB
loading...
2 Polisi Penembak 6 Laskar FPI Divonis Bebas, PA 212: Keadilan Telah Mati
Terdakwa unlawful killing anggota Laskar FPI Ipda M Yusmin Ohorella (kiri) dan Briptu Fikri Ramadhan mendengarkan pembacaan putusan dalam sidang yang digelar secara virtual di Jakarta, Jumat (18/3/2022). Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/rwa
A A A
JAKARTA - Keadilan di negeri ini dianggap telah mati. Hal demikian buntut dari vonis bebas dua polisi sekaligus penembak enam anggota laskar Front Pembela Islam ( FPI ) di KM 50 Tol Cikampek.

"Innalillahi wa inna ilaihiraji'un telah mati keadilan yang selalu terulang dalam kasus kasus yang berkenaan terhadap kelompok kontra rezim saat ini," ujar Wakil Ketua Sekretaris Jenderal Persadaraan Alumni (Wasekjen PA) 212 Habib Novel Bamukmin saat dikonfirmasi, Minggu (20/3/2022). Baca juga: Divonis Bebas, 2 Penembak Laskar FPI Mengaku Terharu

Dia menyebutkan, wibawa penegakan hukum kini sudah tercoreng dengan menggelar sidang pengadilan dagelan. Pasalnya, sidang tersebut penuh dengan rekayasa.

"Dengan kepiawaian merekayasa demi kelompok penguasa yang tentunya bersama oligarki demi menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa dengan membunuh putra putra terbaik anak bangsa," tambah Haib Novel.

Dia mengungkapkan, rezim ini telah memberi contoh membunuh adalah hal yang biasa bukan lagi hal sanksi hukum terberat.

"Sehingga pembunuhan tanpa keputusan pengadilan akan berlanjut bisa dilakukan oleh para oknum aparat penegak hukum atas nama konstitusi," kata Novel.

Ia melihat oknum jaksa, hakim, juga pengacara terdakwa jelas akan menanggung akibatnya cash dari Allah di dunia.

“Namun yang pasti mereka tidak akan lolos di akhirat nanti dengan hukuman neraka jahanam sebagai perjumpaan nanti dipengadilan akhirat dengan enam para syuhada dan keluarga besarnya di hisab akhirat nanti," tambah Habib Novel.



Dikatakan Habib Novel, kemungkaran mempertontonkan ketidak adilan rezim pemerintahan saat ini jelas akan mengundang murkanya Allah.

"Dan itu pasti di dunia dan yang terkena dampaknya justru semua rakyat yang ada di dunia ini. Oleh sebab itu, vonis bebas para pembunuh enam syuhada adalah zhalim," tegas Habib Novel.

Ia juga berharap agar Mantan Sekretaris Umum FPI Munarman yang dituntut delapan tahun penjara terkait kasus terorisme agar bisa dibebaskan.

"Kami juga menuntut Bang Munarman dengan delapan tahun adalah zhalim dan Bang Munarman harus segera dibebaskan karena Bang Munarman satu detik pun tidak boleh dipenjara. Karena kami meyakini Bang Munarman adalah tidak bersalah," pungkas Habib Novel.

Sebelumnya diberitakan, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan memberikan putusan vonis bebas dalam sidang kasus Unlawful Killing Laskar Front Pembela Islam (FPI) dengan terdakwa Briptu Fikri Ramadhan dan Ipda M Yusmin Ohorella, Jumat 18 Maret 2022. Baca juga: 2 Polisi Penembak Laskar FPI Divonis Bebas, Anwar Abbas: Biarlah Tuhan Selesaikan

"Mengadili, menyatakan terdakwa terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan primer, menyatakan perbuatan terdakwa Fikri Ramadhan dan Ipda M. Yusmin sebagai dakwaan primer dalam rangka pembelaan terpaksa melampaui batas, tidak dapat dijatuhi pidana. Karena alasan pembenaran dan pemaaf," ujar Ketua Majelis Hakim M Arif Nuryanta dalam persidangan.

Majelis hakim dalam putusannya menyatakan, terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan secara bersama-sama sehingga membuat orang meninggal dunia sebagaimana dakwaan primer. Namun, keduanya tidak dapat dijatuhi hukuman dengan alasan pembenaran dan pemaaf merujuk pledoi kuasa hukum.

Maka itu, majelis hakim memerintahkan untuk melepaskan kedua terdakwa dari segala tuntutan. Lalu, memerintahkan barang bukti dikembalikan penuntut umum. "Melepaskan terdakwa dari segala tuntutan, memulihkan hak-hak terdakwa. Menetapkan barang bukti seluruhnya dikembalikan ke penuntut umum," katanya.

Adapun sidang yang digelar pada Jumat 18 maret 2022, kedua terdakwa menjalani persidangan secara virtual di kediaman pengacaranya, Henry Yosodiningrat. Sedangkan di ruang sidang hanya ada majelis hakim, perwakilan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan perwakilan pengacara.
(mhd)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1628 seconds (11.210#12.26)