Stasiun Manggarai, Saksi Sejarah Perjuangan Kemerdekaan dan Kemajuan Transportasi Indonesia

loading...
Stasiun Manggarai, Saksi Sejarah Perjuangan Kemerdekaan dan Kemajuan Transportasi Indonesia
Stasiun Manggarai mulai dibangun pada 1914 oleh arsitek Belanda bernama Ir. J. Van Gendt dan resmi digunakan 1 Mei 1918. Foto/Tangkapan layar Facebook @Bintoro Hoepoedio
JAKARTA - Stasiun Manggarai merupakan saksi sejarah yang terus berdetak bersama laju waktu dan berderak mengikuti perkembangan zaman. Stasiun Manggarai menjadi saksi perjuangan kemerdekaan dan kemajuan transportasi kereta api di Indonesia.

Stasiun Manggarai memang mulai dibangun pada 1914 oleh arsitek Belanda bernama Ir. J. Van Gendt atau setelah 41 tahun pembangunan jalur KA Batavia (Jakarta Kota)–Buitenzorg (Bogor) 1869-1873. Saat pembangunan jalur KA Batavia-Buitenzorg, tak ada rencana pembangunan stasiun/ atau halte di Manggarai.

Ketika itu yang ada Stasiun Boekitdoeri (Bukit Duri) yang dibuka pada 1908 (bukan Dipo Bukit Duri). Saat ini lokasinya 400 meter di selatan Stasiun Manggarai. Stasiun Manggarai baru direncanakan dibangun setelah perusahaan kereta api Negara, Staatssporwegen (SS) menguasai jaringan kereta api di Jakarta pada 1913.

Ketika itu perusahaan kereta api negara atau Staatssporwegen (SS) menyatukan jalur Jakarta-Bekasi milik Bataviaasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS) yang dibeli pada 1899 dan jalur Jakarta-Bogor milik Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang akuisisi pada 1913.



Untuk menggantikan stasiun lama Boekitdoeri, baru dibangun Stasiun Manggarai pada 1914. Bahkan arsitek Belanda Ir. J. Van Gendt juga ditugaskan membangun sekolah pendidikan perkeretaapian dan rumah-rumah dinas untuk para pegawai kereta api di sekitar stasiun baru (Manggarai). Empat tahun kemudian Stasiun Manggarai selesai dibangun dan resmi dibuka untuk umum tepatnya pada 1 Mei 1918.

Stasiun ini menjadi titik persimpangan lintas kereta api yang menghubungkan Tanah Abang–Duri, Batavia–Gambir, Meester Cornelis (Jatinegara)–Bekasi, Depok–Bogor, dan jalur cabang menuju eks-Stasiun Meester Cornelis NIS (sekarang Dipo Bukit Duri). (Baca juga; Stasiun Jakarta Kota; Misteri Sebutan Beos, 2 Kepala Kerbau, dan Filosofi Yunani )

Ada keunikan pada Stasiun Manggarai yang sekarang jadi bangunan cagar budaya, yaitu kanopi kayu di peron lama. Dulu kanopi tersebut pernah ada kembarannya yaitu di Stasiun Kroya karena pembangunan Stasiun Manggarai dan renovasi Stasiun Kroya dilakukan pada periode yang sama.

Sejatinya desain asli kanopi kedua stasiun itu berupa kanopi baja cor yang diimpor langsung dari Eropa. Tetapi karena material baja kanopi tidak tersedia di pabriknya akibat Perang Dunia I (1914-1918), pesanan dibatalkan. Kini kanopi peron hasil desain ‘dadakan’ itu masih berdiri dan terawat baik di tengah modernisasi Stasiun Manggarai.

Dalam penataan ulang rel kereta api di Batavia 1913-1921,dekat Stasiun Manggarai juga dibangun Balai Yasa untuk merawat, merehabilitasi, merakit kereta, gerbong dan lokomotif uap. Pembangunan fisik Balai Yasa dimulai pada 1915 dan mulai beroperasi 1920. Menempati sebidang tanah di sebelah barat daya stasiun seluas 13,9 hek tare lebih.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top