Mantan Kapolri Menangis, Pasukan Resimen Pelopor Brimob Keheranan

Senin, 14 Maret 2022 - 15:56 WIB
Saat itu, dia masih lajang dan yang ada di pikirannya hanyalah berangkat ke medan tempur sebagai bagian dari anggota pasukan khusus. Perasaan ini juga dimiliki sebagian besar anggota Pelopor yang tidak terlalu emosional.

Sebagian besar yang berangkat ke Irian Barat adalah veteran dari beberapa operasi tempur seperti operasi tempur DI/TII di Jawa Barat dan Kalimantan, GOM IV di Sumatera maupun GOM VI di Aceh. Tak heran, mereka sudah terbiasa dengan kemungkinan tidak kembali atau mati dalam penugasan.

Kembali lagi ke Jenderal Polisi Soekarno. Semasa menjabat Kapolri periode 15 Desember 1959-29 Desember 1963, dia meninggalkan jejak berharga bagi korps Bhayangkara. Pada 15 Desember 1959, Soekarno dilantik menjadi Kepala Kepolisian Negara menggantikan Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo.

Baca juga: Kisah Komandan Brimob yang Miliki Jimat Mengendus Gerombolan Pemberontak

Pada 1960, Kepolisian Negara bergabung dalam ABRI. Kemudian, anak keempat Bupati Banjarnegara Raden Adipati Djojonagoro II itu mencetuskan Catur Prasetya yakni empat janji prajurit kepolisian. Catur Prasetya ini resmi dijadikan pedoman kerja Polri selain Tribrata sebagai pedoman hidup.

Kemudian, tahun 1962 Kepolisian Negara Republik Indonesia berubah nama menjadi Angkatan Kepolisian RI (AKRI).

Soekarno lalu digantikan Jenderal Polisi (Purn) Soetjipto Danoekoesoemo pada 30 Desember 1963. Dia diangkat menjadi Menteri Penasihat Presiden untuk Urusan Dalam Negeri.

Soekarno Djojonegoro memasuki masa pensiun mulai 31 Juli 1966. Soekarno meninggal dunia di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Dia meninggalkan istri RA Sukatinah dan lima anak. Sesuai permintaannya, jenazahnya dimakamkan di makam khusus untuk pemakaman keluarga Djojonagoro, Kuwondo Giri di Banjarnegara.
(jon)
Halaman :
tulis komentar anda
Follow
Video Rekomendasi
Berita Terkait
Rekomendasi
Terpopuler
Berita Terkini More