Upaya Start Up Pemula Agar Bisa Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19
Minggu, 26 Juli 2020 - 09:42 WIB
"Untuk pendidikan, kita bekerjasama dengan Ikatan Guru Indonesia. Jadi kita ingin mengenalkan daur ulang di pendidikan dan anak kecil tahu, bahwa sampah mana saja yang bisa didaur ulang," sambung Tomi.
Botol plastik air minum misalnya, satu botol plastik air minum, misalnya seharga Rp10 ribu. Tetapi yang digunakan untuk dikonsumsi hanya 30%, sedangkan yang 70% dibuang.
"Padahal dari botol itu, tutup botol, plastik segel, dan botol bisa diproduksi. Nilai paling tinggi itu ada pada botol yang bening. Mesin daur ulangnya juga banyak dan murah. Tetapi kita yang kurang informasi," ungkapnya.
Setelah barang didaur ulang ini, harga barang jadi lebih tinggi dari nilai pertama beli. Bahkan bisa sampai 4x lipat dari harga beli. Pihaknya berharap masyarakat bisa mengubah pola hidup menjadi lebih produktif.
"Kan pemerintah lagi stop plastik. Sebenarnya bukan stop plastik, tapi diolah. Bisa ke bank sampah juga, karena langsung punya nilai. Nanti bisa untuk pulsa Opo, Gojek," tukasnya.
Botol plastik air minum misalnya, satu botol plastik air minum, misalnya seharga Rp10 ribu. Tetapi yang digunakan untuk dikonsumsi hanya 30%, sedangkan yang 70% dibuang.
"Padahal dari botol itu, tutup botol, plastik segel, dan botol bisa diproduksi. Nilai paling tinggi itu ada pada botol yang bening. Mesin daur ulangnya juga banyak dan murah. Tetapi kita yang kurang informasi," ungkapnya.
Setelah barang didaur ulang ini, harga barang jadi lebih tinggi dari nilai pertama beli. Bahkan bisa sampai 4x lipat dari harga beli. Pihaknya berharap masyarakat bisa mengubah pola hidup menjadi lebih produktif.
"Kan pemerintah lagi stop plastik. Sebenarnya bukan stop plastik, tapi diolah. Bisa ke bank sampah juga, karena langsung punya nilai. Nanti bisa untuk pulsa Opo, Gojek," tukasnya.
(thm)
tulis komentar anda