Orang Tua Rantai Anak di Bekasi Hanya karena Kerap Habiskan Makanan

Kamis, 21 Juli 2022 - 21:13 WIB
loading...
Orang Tua Rantai Anak di Bekasi Hanya karena Kerap Habiskan Makanan
Ketua LPAI Bekasi Raya Frans Sondang Sitorus (kiri) mengungkap pengakuan aneh orang tua dari anak korban penganiayaan di Kecamatan Jatiasih. Foto: MPI/Jonathan Simanjuntak
A A A
BEKASI - Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Bekasi Raya mengungkap pengakuan aneh orang tua dari anak korban penganiayaan di Kecamatan Jatiasih. Orang tua korban mengaku mengikat anaknya menggunakan rantai hanya karena sang bocah kerap menghabiskan makanan.

"Tadi saya sempat ngobrol dengan orang tuanya. Mereka bilang anak ini sering menghabiskan makanan, karena jatah orang tua diambil begitu. Bahkan tadi ada laporan, takutnya mengambil makanan tetangga jadi mereka (orang tua) mengikatnya," ujar Ketua LPAI Bekasi Raya Frans Sondang Sitorus di Mapolres Metro Bekasi Kota, Kamis (21/7/2022).

Baca juga: Viral Anak Jatiasih Dirantai Orang Tua, Polisi: Kita Selamatkan Dulu

Anehnya, Frans mendapat pengakuan dari ibu korban bahwa anak R lah yang meminta untuk dirantai. Frans menduga hal tersebut hanya pembelaan dari pelaku. "Saya tanya minta diikat kenapa? Dia (ibu R) tidak bisa menjawab," ucapnya.

Dalam observasinya ketika melihat anak R, Frans justru menilai anak itu dalam kondisi kurang diperhatikan kebutuhan gizinya. Sebab R termasuk anak dalam berkebutuhan khusus.

Baca juga: Anak Dirantai di Bekasi Bertemu Kapolres: Bapak Baik, Enggak seperti Ayah Saya Suka Nonjok

"Tadi pagi saya ketemu dengan si anak, dan berbincang dengan si anak. Memang kami melihat fisik, karena masih dilakukan pendalaman lagi, itu memang tidak diperhatikan dalam hal makanan dan gizi, itu yang saya perhatikan," beberrnya.

LPAI akan mengawal terus perkembangan kasus ini. Termasuk memantau kondisi psikis anak dengan melibatkan berbagai pihak. Dia berharap apabila orang tua korban terbukti melakukan kekerasan, harus dihukum agar ada efek jera.

"Tidak kalah penting adalah kondisi psikis anak. Karena kan ini lebih panjang. Kalau proses hukum kan setelah masuk pengadilan, putusan pengadilan, selesai. Tapi untuk masalah psikis anak itu kan lama. Jadi, kita semua bersinergi dan bergandengan tanga," pungkasnya.
(thm)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3387 seconds (10.55#12.26)