alexa snippet

Partisipasi pemilih rendah

Partisipasi pemilih rendah
Ilustrasi (dok.istimewa)
A+ A-
Sindonews.com – Tingkat partisipasi pemilih pada putaran kedua Pilgub DKI Jakarta yang dilaksanakan pada 20 September mendatang diprediksi rendah dan tidak jauh beda dengan putaran pertama.

Prediksi rendahnya partisipasi pemilih ini berdasarkan survei yang dilakukan Pusat Kajian Politik(Puskapol) FakultasIlmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI).

Peneliti Puskapol Fisip UI Dirga Ardiansa mengungkapkan,dari survei yang dilakukan Puskapol UI selama 18 hari pada 13-29 September 2012, ada 600 responden yang tersebar di lima wilayah kota DKI Jakarta,minus Kabupaten Kepulauan Seribu.

Jejak pendapat itu menggunakan metode multi stage stratified random sampling. Setiap responden diwawancarai secara tatap muka dengan menggunakan kuesioner. Semua responden mewakili sejumlah suku bangsa yang hidup di Jakarta.

Hasil survei menunjukkan hanya 51,2 persen warga DKI Jakarta mengetahui ada putaran kedua. Dari warga yang mengetahui ada putaran kedua tersebut, 93,7 persen di antaranya memutuskan akan datang ke tempat pemungutan suara (TPS).

Dari jumlah tersebut,69,8 persen dari responden ini telah menentukan pilihan, sedangkan 30,2 persen lainnya belum memutuskan. Pemilih yang belum memutuskan ini sangat memengaruhi hasil suara kandidat di hari pemilihan nanti, bahkan bisa juga akan memutuskan untuk tidak memilih salah satu.

Dirga menilai,51,2 persen warga yang mengetahui ada putaran kedua menunjukkan keinginan masyarakat untuk datang ke TPS pada hari pemilihan masih rendah.Dalam sebuah pilkada partisipasi pemilih baru dapat dikatakan tinggi bila mencapai 70 persen pemilih.

Pada putaran pertama lalu jumlah partisipasi pemilih sekitar 64 persen. Beberapa hari menjelang putaran kedua sangatlah aneh bila hasil survei menunjukkan 51,2 persen warga yang mengetahui ada putaran kedua pilgub.

“Melihat angka survei ini, kami memprediksi tingkat partisipasi pemilih rendah dan tidak jauh berbeda dengan putaran pertama,” ujar Dirga Ardiansa di sela-sela penyampaian hasil survei Puskapol UI tentang Pilgub DKI Jakarta di salah satu hotel bilangan Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat kemarin.

Rendahnya pengetahuan warga ini menunjukkan sosialisasi pilkada belum maksimal dilakukan KPU DKI Jakarta selaku penyelenggara.

Dari hasil survei diketahui, selama ini warga mengetahui ada putaran kedua melalui media massa seperti dari televisi 68,6 persen, koran 18,3 persen, internet 4,1 persen, dan sosialisasi kandidat 1,8 persen.Sedangkan sumber informasi dari spanduk atau pamflet KPU DKI Jakarta hanya 7,6 persen.

Peneliti Puskapol lainnya, Irwansyah, menambahkan, minimnya bentuk sosialisasi pilkada putaran kedua ini membuat masyarakat terjebak dengan sebuah informasi demokrasi pilkada tidak edukatif.

Masyarakat dihadapkan dengan isu negatif dan tidak membangun bentuk pendidikan politik itu sendiri seperti maraknya isu suku agama ras dan antargolongan (SARA). Isu itu memicu membangun emosi pemilih terhadap salah satu kandidat.
halaman ke-1 dari 2
loading gif
Top