Kisah Pedagang Bakso di Tangsel 14 Tahun Aktif di NII lalu Hijrah ke NKRI

Senin, 05 Desember 2022 - 20:15 WIB
loading...
Kisah Pedagang Bakso di Tangsel 14 Tahun Aktif di NII lalu Hijrah ke NKRI
Ratusan mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) berikrar setia kembali pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Puspem Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Senin (5/12/2022). Foto: MPI/Hambali
A A A
TANGERANG SELATAN - TK (40), pedagang bakso yang juga mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) dan istri tampak lahap menyantap nasi kotak beserta ratusan anggota lainnya di Puspem Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Senin (5/12/2022). Hari ini mereka berikrar setia kembali pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) .

TK mengisahkan awalnya mengenal ajaran NII pada tahun 2008 di Tangsel. Saat itu, ada temannya sesama pedagang mengajak ke suatu pengajian. Lambat laun, dia mulai tertarik untuk bergabung.

"Dulu saya masih dagang tahu gejrot belum dagang bakso. Saya ikut ngaji, lama-lama menarik juga. Kalau dari ilmu agamanya bagus, waktu itu belum ada omongan-omongan ke politik atau soal apalah gitu. Semenjak itu saya ngikut terus," tuturnya.
Baca juga: Kodam Siliwangi Gagalkan 50 Warga Dibaiat NII, Deklarasi Kembali ke NKRI

Sekian tahun lamanya TK bergelut dalam kelompok NII khususnya mereka yang tinggal di wilayah Tangsel. Pengajian atau pertemuan di berbagai tempat dia ikuti. Tak ada kecurigaan apa pun, bahkan sebelumnya dia merasa aneh dengan tudingan jika NII dikatakan kelompok radikal.

"Saya juga bingung awalnya kenapa banyak yang bilang radikal segala macem. Padahal, kalau pengajiannya bagus, makanya waktu itu saya aktif," kata TK.

Namun, perlahan-lahan TK merasakan ada kejanggalan dalam ajaran NII. Terutama soal kepemimpinan dan negara Islam di mana dia menganggap NII mau mewujudkan semua itu dengan cara merebutnya dari NKRI.

"NKRI lebih jelas aja. Kalau di NII kan nggak ada yang urus surat-surat keperluan (administrasi) segala macam. Sedangkan kita kalau mau urus apa-apa ya ke NKRI. Makanya saya nggak sepakat soal ajaran negaranya (NII) itu," ucapnya.

Akhirnya, TK memilih hijrah kembali kepada NKRI karena tak ada ketenangan yang didapat saat menjadi anggota NII. "Semua sembunyi-sembunyi, sesama kita saja yang tahu. Kalau mau pengajian atau apa pun itu semua rahasia kayak ngumpet-ngumpet. Jadi ibadah kita nggak tenang kayak orang punya salah," ungkapnya.

Dia pun mulai berani mencari perimbangan dengan belajar ke sumber lain di luar kelompok NII. Setelah yakin dengan pencerahan itu barulah dia menyatakan keluar dari NII. "Sekarang saya, istri, dan keluarga sudah baiat, ikrar ke NKRI," katanya.

Direktur Pencegahan Densus 88 Antiteror Mabes Polri Brigjen Pol Ami Prindani mengatakan, NII dikategorikan kelompok radikal dan rentan menjelma menjadi kelompok teroris. Sehingga, proses penyadaran melalui program deradikalisasi tetap diberikan kepada anggota dan simpatisan NII.

"NII kategorinya masih radikal saja. Dia keinginannya ingin membangun Negara Islam Indonesia. Untuk pendekatan treatment seperti ini kita lakukan ke semua kelompok radikal," ujarnya.

Menurut dia, masih cukup banyak potensi radikalisme semacam NII di beberapa daerah. Baru-baru ini, ikrar setia diucapkan mantan anggota NII di Sumatera Barat, Aceh, Garut, dan wilayah lainnya.

"Ini harus kita lakukan pendekatan, penggalangan supaya mereka kembali. Karena tidak mungkin yang radikal itu kita tangkap semua, kita proses semua. Tidak mungkin cukup tahanan kita. Karena faktanya mereka banyak yang tidak tahu bahwa kelompok atau ajaran yang mereka ikuti radikal atau dilarang negara," kata Ami.
(jon)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1985 seconds (11.210#12.26)