Pakar Polimer UI Sebut Produk Plastik Tak Berbahaya

Selasa, 27 September 2022 - 20:48 WIB
loading...
Pakar Polimer UI Sebut Produk Plastik Tak Berbahaya
Pada prinsipnya produk plastik tidak berbahaya. Yang menjadi bahaya jika masyarakat salah memperlakukannya. Foto: Ist
A A A
JAKARTA - Pakar Teknologi Produk Polimer Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT UI) Mochamad Chalid mengatakan, pada prinsipnya produk plastik tidak berbahaya. Yang menjadi bahaya jika masyarakat salah memperlakukannya.

“Makanya perlu mengenal produk-produk plastik yang kita gunakan. Jadi, yang perlu kita lihat adalah bagaimana kita memperlakukan produk plastik itu,” ujar Chalid, Sabtu (24/9/2022).
Baca juga: 5 Hal Penting soal Plastik yang akan Kamu Temui kalau Nonton "Pulau Plastik"

Dia menyarankan BPOM sebagai lembaga pengawas pangan di Indonesia melakukan pendekatan ke konsumen dengan cara memberikan edukasi. Misalnya, konsumen pengguna galon guna ulang yang berbahan BPA, BPOM perlu mengedukasi masyarakat bagaimana memperlakukannya agar tidak berbahaya bagi kesehatan. Begitu juga dengan konsumen yang menggunakan galon sekali pakai dan produk-produk pangan plastik lainnya. “Itu harus diawasi juga,” ucapnya.

Terkait isu bahan BPA yang disebut berbahaya bagi kesehatan, hal itu masih menjadi perdebatan. Di Amerika dan Eropa saja, mereka relatif punya perspektif yang berbeda dalam penetapan batas ambang asupannya.

Di Amerika, adanya FDA (Food and Drug Adminstration) mereka memberikan batasan 5 mikrogram per kilogram berat badan dalam sehari. Sementara, Eropa lebih ketat. “Sebenarnya kalau itu bisa dijaga dengan ambang batas demikian, relatif kemasan ini tidak mempunyai masalah besar. Nah, sekarang masalahnya adalah bagaimana produsen telah memenuhi syarat untuk itu,” katanya.

Di Eropa, tidak ditemukan AMDK galon. Mereka biasa minum dari air keran. Tapi, di Indonesia menyediakan air minum langsung dari keran itu sangat sulit karena perlu maintenance yang tinggi sekali karena memang beda iklim dengan Eropa. “Kalau di sana kan iklimnya subtropis. Kalau di sini panas dan ada macam-macam bakterinya,” tuturnya.

Menurut Chalid, bicara tentang semua produk itu ada beberapa kelebihan dan kekurangannya, apakah itu AMDK galon guna ulang maupun galon sekali pakai. “Yang penting itu bagaimana masyarakat sadar bagaimana cara penggunaannya, sudah ber-SNI atau belum, dan seterusnya,” katanya.

Ditanya soal wacana regulasi pelabelan berpotensi mengandung BPA pada galon guna ulang, dia mengatakan, bukan hanya galon guna ulang saja, tapi kemasan lain termasuk galon sekali pakai pun harus dibuat pelabelan yang terkait potensi bahayanya.
Baca juga: Menilik Kontribusi Pengelolaan Limbah Plastik ke Perekonomian

Terkait edukasi produk pangan plastik ke masyarakat, hal itu harus dilakukan dalam berbagai perspektif. “Artinya, sudah saatnya kita melakukan edukasi produk plastik ini tidak hanya kepada masyarakat yang tergolong dewasa, tapi masyarakat usia dini. Tidak hanya berkaitan dengan plastik, tapi juga dengan sampah yang ditimbulkannya,” ucapnya.

Menurut dia, bicara aman atau tidaknya produk kemasan plastik juga harus dilihat dari banyak perspektif. “Artinya, bukan si plastiknya yang disalahkan, tapi bagaimana kita memperlakukannya. Jadi, sebenarnya bukan masalah takut pada plastiknya tapi bagaimana kita menggunakannya,” kata Chalid.

Untuk itu, dia menyarankan produsen, konsumen, regulator, dan lembaga penelitian duduk sama-sama untuk membicarakan apa yang harus dilakukan terhadap produk pangan plastik. “Solusinya bukan hanya basis teknologi saja, tapi bisa berkaitan dengan bagaimana mengubah perilaku masyarakat. Karena, jika masyarakat teredukasi dengan baik maka akan menjadi bagian dari kendali juga terhadap produk pangan tersebut,” ujarnya.
(jon)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1816 seconds (10.177#12.26)