Dahulu, Kota Depok Dipimpin Presiden

loading...
Dahulu, Kota Depok Dipimpin Presiden
Kota Depok yang berpisah dari Kabupaten Bogor pada tahun 1999 ini ternyata dulunya sempat memiliki Presiden.Foto/Istimewa.dok
JAKARTA - Kota Depok salah satu kota di Provinsi Jawa Barat ini tak asing lagi di telinga kita. Namun, tahukah Anda, kota yang berpisah dari Kabupaten Bogor pada tahun 1999 ini ternyata dulunya sempat memiliki Presiden.

Ya, Depok pernah menjadi satu negara dengan dipimpin oleh Presiden sebagai kepala negaranya. Dirangkum dari berbagai sumber, pada Abad ke-17 ada seorang sudagar kaya raya asal Belanda bernama Cornelis Chastelein membeli tanah Depok seluas 12,44 km2 dengan harga Rp2,4 juta.

Tanah ini berstatus partikelir, bukan termasuk dari kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Pada Abad ke-18, Depok adalah wilayah administratif yang memiliki Gemeente Bestuur atau pemerintah sipil. Chastelein menjadi penguasa pertama dan pendiri Depok.

Ketika itu, wilayah Depok masih berupa hutan belantara. Dengan bantuan para budaknya yang berada dari berbagai suku daerah, Chastelein membabat hutan untuk membuka lahan garapan. Cakupan wilayah Depok sangat luas, mulai dari seluruh kawasan Depok sekarang, hingga Pasar Minggu di Jakarta Selatan.



Para penduduk pertama yang mendiami Depok adalah para budak milik Chastelein. Hingga akhirnya Depok memiliki Presiden pertama pada tahun 1913 dengan nama pemerintahan Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok.

Presidennya dipilih secara demokratis oleh rakyat. Pusat pemerintahannya berada di titik Kilometer 0 yang ditandai oleh Tugu Depok. Tak jauh dari situ, berdiri gedung pemerintahan yang kini difungsikan sebagai Rumah Sakit Harapan. Presiden hanya menjabat selama tiga tahun saja. Baca: Mengenal Margonda, Pahlawan asal Bogor yang Diabadikan sebagai Nama Jalan di Depok

Presiden pertama Depok adalah Gerrit Jonathans yang menjabat pada tahun 1913. Setelah itu terdapat tiga Presiden yang memimpin, antara lain Martinus Laurens yang menjabat pada 1921, Leonardus Leander yang menjabat pada 1930, dan Johannes Matjis Jonathans yang menjabat pada 1952. Sangat disayangkan, sama sekali tidak ditemukan catatan terperinci dari masing-masing Presiden di masa pemerintahannya.

Chastelein adalah sosok penganut Katholik yang taat, tidak heran jika ia memiliki sikap yang dermawan pada para budaknya. Sebelum meninggal, 28 Juni 1714 ia berwasiat kepada seluruh budaknya untuk memberikan mereka lahan, rumah, hewan, dan alat pertanian. Ia juga memberikan kemerdekaan setelah sepeninggalnya. Karena khawatir terjadi perebutan, ia menunjuk Jarong van Bali untuk memimpin dan mengatur mereka.

Para budak yang telah meredeka tersebut khawatir sepeninggal Jarong van Bali terjadi perebutan kekuasaan. Akhirnya disepakati untuk menerapkan sistem demokrasi dalam pemilihan pemimpin yang disebut presiden setiap tiga tahun sekali.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top