Sejarah Jalan Gajah Mada di Batavia, Dibangun Tahun 1648 oleh Kapten Tionghoa Phoa Beng Gan

loading...
Sejarah Jalan Gajah Mada di Batavia, Dibangun Tahun 1648 oleh Kapten Tionghoa Phoa Beng Gan
Kawasan Molenvliet West di tanah Batavia tahun 1940 (sekarang Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat). Foto: Tropenmuseum
JAKARTA - Jalan Gajah Mada merupakan nama jalan di Jakarta Barat yang menghubungkan kota lama dan kota baru dulunya dikenal Molenvliet West ( Batavia ). Di bagian tengah jalan itu mengalir Kali Ciliwung.

Dikutip dari laman Wikipedia, Sabtu (4/9/2021), jalan ini dibuat tahun 1648 oleh pemuka masyarakat yang juga kapten Tionghoa bernama Phoa Beng Gan. Molenvliet West berarti jalan yang berada di sisi sebelah barat kali. Di sepanjang jalan berdiri banyak bangunan seperti rumah keluarga Khouw, Gedung Arsip Nasional, kantor Perusahaan Gas Hindia Belanda, Moenswijk, Gedung Harmonie, gedung Freres, bangunan keempat Hotel des Indes, Hotel Marine, dan cabang utama Toko Eigen Hulp.
Baca juga: Siasat Gajah Mada Menaklukkan Kebo Iwa, Patih Kerajaan Bali yang Ditakuti Majapahit

Di kawasan Molenvliet West terdapat Kali Molenvliet yang menghubungkan Kota Tua (Oud Batavia) dan kawasan selatan seperti Lapangan Banteng dan Monas (Weltevreden). Begitu strategisnya daerah ini menjadikan kawasan komersial dan incaran permukiman elite kala itu.
Sejarah Jalan Gajah Mada di Batavia, Dibangun Tahun 1648 oleh Kapten Tionghoa Phoa Beng Gan

Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat tahun 2013. Foto: Wikipedia

Merujuk buku Menyisir Jejak Betawi karya Windoro Adi, Kali Molenvliet dibangun setelah konflik internal di Kesultanan Banten kian tak terbendung pada abad XVII. Kondisi ini dianggap tak menguntungkan perusahaan dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).



Gubernur keempat VOC Jan Pieterszoo Coen (JP Coen) lantas memindahkan armadanya ke Batavia yang kala itu masuk tahap pembangunan tepatnya di kota lama Kampung Akuarium atau sekitar Museum Bahari. Namun, aktivitas yang tinggi membuat warga kesulitan mendapatkan air tawar. Kondisi ini diperburuk dengan banyaknya rawa di kawasan ini yang dipenuhi sampah.

Lambat laun warga mulai diserang wabah malaria. JP Coen kemudian meminta Kapten Tionghoa Phoa Ben Gan untuk membantu mengatasinya. Dengan ilmu keirigasiannya, Phoa Ben Gan mulai merancang kanal menuju Teluk Jakarta di kawasan Kampung Akuarium. Dengan aliran besar air dari kawasan selatan seperti Kali Ciliwung dan Krukut, maka sampah di rawa-rawa akan menjadi bersih dan tak lagi memicu banjir.
Baca juga: Kisah Asmara Gajah Mada, Panglima Perang Majapahit yang Sumpahnya Menggemparkan Nusantara

Dalam pembangunannya, Phoa Ben Gan mengajak warga di sekitar Molenvliet untuk membantu menggali kanal yang berada di tengah Jalan Molenvliet. Kanal selebar 25 meter itu kemudian tersambung hingga ke kawasan Kali Besar dan tembus ke galangan VOC. Di sisi lain, keberadaan kanal ini sangat membantu transportasi dan suplai barang yang kala itu murni dilakukan melalui perairan.

Seiring meningkatnya aktivitas di kawasan Mookevart, pada abad XVIII para pelaku ekonomi berdatangan. Pecinan kemudian muncul di sekitar kawasan Glodok, toko- toko kemudian bermunculan menghidupkan ekonomi di kawasan tersebut.

Adapun perumahan elite yang berdiri kokoh saat itu antara lain vila Gubernur VOC 1777-1790 Reinier de Klerk seluas 27.000 meter persegi. Vila ini kemudian menjadi gedung arsip pada 1925.

Di pertengahan awal 1960-an setelah nasionalisasi kedua dimulai, nama Jalan Molenvliet kemudian diubah dari Molenvliet West menjadi Gajah Mada di sisi barat dan Molenvliet Oost menjadi Hayam Wuruk di sisi timur. Dua nama itu demi mengingat sejarah Kerajaan Majapahit.
(jon)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top