Dari Klenteng ke Weltevreden, Kisah Pasar Baru yang Legendaris

Sabtu, 05 September 2020 - 08:07 WIB
loading...
A A A
Karena lahan yang begitu besar, lapangan kosong, tak hayal KlentengSin Tek Bio berdekatan dengan areal jalan raya. Tak seperti sekarang yang kini terhimpit gedung pasar tinggi dan berada di gang sempit.

Meski tak ingat pasti, namun menjamurnya pembeli saat itu, membuat pemprov dki membangun gedung pasar disana. Lapangan yang dahulu menjadi pangkalan delman dan pasar berubah fungsi menjadi gedung. “Kalau engga salah tahun 60-70 an, pastinya saya lupa,” katanya.

Sempat bergeser sekitar 50 meter dari lokasi pasar baru di sisi utara. Pangkalan delman kian laun menghilang seiring berubahnya transportasi dari kuda ke mesin.

Gang Kelinci

“Rumahku di salah satu gangNamanya gang kelinci..Entah apa sampai namanya kelinciMungkin dulu kerajaan kelinciKarena manusia bertambah banyakKasihan kelinci terdesak,”

Sepenggal bait lagu gang kelinci yang diciptakan Titiek Puspa dan di nyanyikanLilis Suryanimenjadi sepenggal kisah tentang gang kelinci, gang ini menjadi saksi bisu peradaban di pasar baru.

Saat menyambangi gang itu, suasana padat dan pengap terlihat. Rumah rumah saling behimpit dan anak anak berlari larian keluar masuk gang.

Meski padat namun berbeda dengan gang di kawasan Kecamatan Tambora. Gang Kelinci jauh lebih bersih dan rapih, warga disana hidup rukun, tak terpatok satu etnis tertentu, ada orang india, cina, hingga pribumi.

Klenteng Sin Tek Bio serta beberapa musolah dan masjid menjadi cerita tersembunyi tentang kehidupan harmonis warga disana. Disana pula terdapat sejumlah makanan legendaris yakini Bakmi Gang Kelinci yang lahir tahun 50 -an dan Bakmi A Boen.
(mhd)
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2035 seconds (11.252#12.26)