alexametrics

Kurangi Volume Sampah, Pemkot Jakut Daur Ulang APK Jadi Produk Kerajinan

loading...
Kurangi Volume Sampah, Pemkot Jakut Daur Ulang APK Jadi Produk Kerajinan
Pemkot Jakarta Utara bakal mendaur ulang sisa APK menjadi produk kerajinan tangan. Foto: Ilustrasi/SINDOnews/Dok
A+ A-
JAKARTA - Pemilu 2019 beberapa waktu lalu telah menyisahkan sampah di Ibu Kota dari alat peraga kampanye (APK), baik APK caleg, parpol, maupun pasangan capres. Tak ingin APK itu menambah tumpukan sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, Pemkot Jakarta Utara (Jakut) bakal mendaur ulang ribuan sisa APK menjadi produk kerajinan tangan.

APK berupa spanduk, baliho, dan sejenisnya itu bakal dipermak menjadi beberapa barang kerajinan tangan, mulai dari tas, keranjang, dan barang lainnya. Proses itu kini tengah dipercepat bekerja sama dengan sejumlah penjahit.

Wali Kota Jakarta Utara, Syamsuddin Lologau, mengatakan, saat ini proses pemilihan sampah APK masih dilakukan oleh petugas. Nantinya APK yang dalam kondisi baik akan dijadikan bahan kerajinan. Dengan demikian dapat mengurangi bobot sampah menuju TPST Bantar Gebang.



"Sebagian APK yang masih dalam kondisi baik akan dimanfaatkan untuk daur ulang. Tapi yang sudah tidak baik akan kami buang ke Bantar Gebang," ujar Syamsuddin, Senin (22/4/2019).

Syamsuddin menuturkan, salah satu yang akan mendaur ulang limbah APK yakni Pembina Kesejahteraan Keluarga (PKK). Mereka akan mendaur ulang dengan mengkonsep sejumlah sisa APK.

Kasie Peran Serta Masyarakat (PSM) dan Penataan Hukum (PH) Suku Dinas (Sudin) Lingkungan Hidup Jakarta Utara Yudi Sumarsono menambahkan, sebagian sampah APK akan didaur ulang menjadi tas.

Adapun sampah APK itu merupakan hasil penertiban atau pencopotan saat memasuki masa tenang menjelang Pemilu 2019. Namun, hingga saat ini rencana mendaur ulang APK masih belum terealisasi. Sebab, pihaknya belum mendapatkan tenaga penjahit. "Saat ini kami sedang mencari penjahitnya. Barang-barang (APK) sudah ada di Kantor Sudin Lingkungan Hidup," terangnya.

Akan tetapi tidak semua APK yang ada di kantor Sudin Lingkungan Hidup akan didaur ulang. Sebab, APK dari penertiban memiliki ukuran berbeda dan yang sudah rusak akan dibuang. Untuk memilah sampah APK yang nantinya bisa didaur ulang menjadi kerajinan, butuh waktu tiga hari. Sebab jumlahnya mencapai ratusan APK.

"Kemarin dari hari Sabtu-Senin sudah saya pilah-pilah. Nanti kami pilah mana yang bisa dibuat tas, kan engga semua APK dalam bentuk baik. Tapi kami akan tetap maksimalkan supaya bisa dipakai," tuturnya.

Sejauh ini pihaknya baru akan mendaur ulang sampah APK menjadi tas. Sebab, pola untuk membuat tas merupakan yang paling mudah. Nantinya tas yang sudah jadi dan terkumpul dibagikan kepada masyarakat saat menggelar kegiatan sosialisasi.

"Kalau rencana kami akan dibagi-bagikan saat ada kegiatan sosialisasi. Misalnya, ada sosialisasi masalah pengurangan sampah di sekolah, itu kami kasih pertanyaan, nanti (hadiahnya) kasih tas. Kami sering sosialisasi seperti itu. Kalau kami bagikan sekaligus pasti langsung habis," ujarnya.

Ia berharap ada masyarakat yang bersedia untuk membuat kerajinan ini. Pihaknya juga masih berkoordinasi dengan bank sampah Karya Peduli. Dari informasi yang didapat, bank sampah tersebut bisa membuat tas dari daur ulang.

“Kalau kami (Sudis LH) kan enggak mungkin membuat. Tapi saya akan menanyakan ke teman-teman kantor, mungkin ada dan bisa membuat tasnya. Tapi belum ketemu, karena perlu mesin jahit dan mesinnya juga tidak biasa," ucapnya.

Alasan Pemkot Jakarta Utara memilih mendaur ulang APK lantaran selama ini sampah di wilayahnya paling banyak setiap harinya dan tidak mudah mengolahnya. Ia mencontohkan, sampah anorganik terdaur ulang menjadi tanah atau barang yang bisa kembali ke tanah lagi, membutuhkan waktu ratusan tahun.

"Plastik kresek sudah menjadi masalah Ibu Kota. Bahkan, saat ini Indonesia menjadi penyumbang sampah terbesar nomor tiga di dunia," tutupnya.
(thm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak