alexa snippet

Kisah Bang Pi'i si Jawara Senen dan Awal Mula Kriminalitas di Jakarta

Kisah Bang Pii si Jawara Senen dan Awal Mula Kriminalitas di Jakarta
Foto Bang Pi'ie dipajang di Museum MH Thamrin, Jakarta Pusat. Foto:SINDOnews/Agie Permadi
A+ A-
PADA masa pemerintahan orde lama, nama Imam Imam Syafei atau lebih dikenal dengan sebutan Bang Pi'i, mungkin tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, khususnya warga DKI Jakarta. Ya, pemimpin sebuah geng yang dikenal kerap melakukan tindakan kriminalitas itu pernah menduduki jabatan strategis di era pemerintahan Presiden Soekarno.
 
Putra Betawi kelahiran Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, itu pernah diplot menduduki jabatan menteri. Tepatnya pada 24 Februari 1966 Bang Pi'i diangkat Presiden Soekarno sebagai Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Dwikora yang disempurnakan. Bang Pi'i merupakan pentolah paling berkuasa di wilayah Pasar Senen saat itu‎. Bang Pi'ie memiliki sebuah geng yang ditakuti di kawasan Senen, Jakarta Pusat, yakni Geng Kobra.

"Geng Kobra ini sangat ditakuti, bahkan sempat ingin membuat onar pemerintahan orde lama. Sebagai seorang preman, nama Imam Syafi'ie sangat disegani di Jakarta pada tahun 1940-an. Mampu mengorganisir preman, copet dan anak-anak jalanan, menjadikan Imam Syafei atau dikenal Bang Pi’i dekat dengan orang-orang penting di Republik ini," ujar Ketua Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia (KPBMI), Dhanu Wibowo, saat menggelar diskusi di Museum MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (30/7/2017).

Dhanu menceritkan, Ketika masa perjuangan memperebutkan kemerdekaan, Imam Syafei bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang dipimpin Daan Anwar. Almarhum Rosihan Anwar pernah menulis artikel obituari berjudul "Daan Anwar Pejuang Daerah Senen". Berkat bantuan Syafei, Daan Anwar yang diserang tentara Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) Belanda di daerah Kramat pada Desember 1945, lolos dari maut.

Imam Syafei atau sering juga disebut dengan Sape’i atau Bang Pi’i, memiliki anak buah yang berasal dari Banten. Kelompok mereka disegani karena memiliki senjata api dari tangsi-tangsi Belanda yang berada di sekitar wilayah Senen dan Salemba. Pada 1959, atas permintaan komando militer Jakarta, Geng Cobra dibubarkan. Namun Syafei tetap dianggap  menjadi tokoh penting karena mampu menggerakkan massa untuk berdemonstrasi. Salah satunya demonstrasi pembubaran parlemen pada 1952.

Masih kata Dhanu, Syafei berkawan dengan politisi dan tokoh militer, di antaranya Kemal Idris. Pada masa menjelang kejatuhan orde lama, Syafei diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Dwikora II yang dikenal dengan kabinet 100 menteri. Namun, jabatan itu dipangkunya hanya sebentar, mulai 24 Februari 1966 dan berakhir 27 Maret 1966."Banyak kalangan yang mencibir pengangkatan Bang Pi’i sebagai menteri. Mahasiswa bahkan berdemonstrasi meneriakinya sebagai ‘menteri copet’," kata Dhanu.

Berdasarkan literasi yang pernah ia baca, konon asal muasal kriminalitas Jakarta juga berasal dari Pasar Senen yang akhirnya menyebar hingga ada kawanan-kawanan pelaku kriminal lain yang diduga sebagai embrio dari Geng Kobra. Mengapa disebut kriminal? Lantaran Geng Kobra kerap “merampas paksa” harta kekayaan kaum bangsawan, orang kaya hingga toko-toko emas. ‎Namun begitu, hasil rampasan itu didonasikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

‎"Ada beberapa versi yang mengatakan jika perampasan dilakukan secara acak, tapi ada juga yang bilang hanya kaum kaya dan toko emas. Hasil rampasan, kalau menurut data yang ada, dibagikan kepada kaum yang membutuhkan di sekitar Senen, tapi tak menutup kemungkinan juga di luar wilayah Senen," pungkas Dhanu.



(tom)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top