Magnet Wisata Kian Terkikis, Kampung Turis Tak Lagi Laris

loading...
Magnet Wisata Kian Terkikis, Kampung Turis Tak Lagi Laris
Magnet Wisata Kian Terkikis, Kampung Turis Tak Lagi Laris
JAKARTA - Plang biru bertulis ‘Kawasan Wisata Malam’ di pinggir Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat tak lagi berkilau. Plang setinggi tujuh meter itu telah berkarat. Putih warna tulisannya juga memudar tersapu hujan dan dimakan usia.

Kawasan Wisata Malam Jaksa kini mengenaskan. Dari puluhan kafe yang pernah ada, kini hanya tersisa kurang dari lima saja. Gambaran ini kontras pada 1990 hingga 2010-an. Masa ini, Jalan Jaksa ibarat mencapai masa keemasan. Tiap malam, jalan sepanjang sekitar 400 meter ini selalu tersendat. Ratusan turis asing berseliweran untuk menikmati malam di sejumlah tempat hiburan yang berada di sepanjang jalan ini. Selain hiburan malam, Jalan Jaksa juga memiliki banyak kuliner khas yang terkenal kala itu, seperti soto, sate dan kopi.

Puluhan kafe yang berderet membuat membuat jalan pendek ini begitu hidup, bahkan hingga jelang pagi. Cahaya lampu temaram diiringi musik reggae atau dangdut di tiap kafe membuat Jaksa benar-benar menyala.

Namun kini semuanya telah berubah. Bahkan, perubahan seolah hampir 180 derajat. Jalan satu arah ini sunyi. Tak ada kemacetan, gemerlap lampu maupun suara keras dari lorong-lorong remang kafe.



Saat KORAN SINDO menyambangi kawasan itu malam hari, tak terlihat ingar bingar keramaian, setidaknya seperti lima tahun silam. Pintu-pintu kafe tertutup rapat. Hanya beberapa kafe yang mencoba bertahan dengan kondisi mengenaskan. Tak banyak pembeli dan sepi. Para pejalan kaki juga makin mudah melewati

jalan ini. Apalagi, pedestrian di jalan ini sudah tertata rapi. “Jangankan untuk malam Minggu atau weekend. Pada peringatan Hari Kemerdekaan RI yang biasanya ramai juga kini juga sangat sepi,” kata Oppa,57, salah satu pengunjung setia sebuah kafe di Jalan Jaksa, pekan lalu.

Saat pertama kali datang ke Jalan Jaksa pada tahun 1990-an, Oppa begitu terkesan dengan jalan yang tak jauh dari kawasan Monas ini. Jalanan cukup ramai. Kafe-kafe bermunculan bak jamur di musim penghujan. Sejumlah wisatawan yang mayoritas asing tumpah ruah di kawasan ini, Di malam hari, mereka berjoget seiring alunan musik kafe. Ada banyak kafe yang masyhur kala itu, seperti Obama Cafe, Papa's Cafe, Ali's Bar, dan KL Village, Kafe Equal Park, dan Memories Cafe.Layaknya kawasan Legian, Kuta, Bali, lanjut Oppa, Jalan Jaksa
dipenuhi sejumlah hiburan.



Gadis-gadis lalu lalang di kawasan ini. Para turis asing dari Eropa dan Amerika berkumpul menikmati Ibu Kota dengan santai di Jaksa sebelum pelesiran ke sejumlah pelosok Indonesia, seperti Bali, Lombok, Danau Toba, hingga beberapa tempat lainnya yang eksotik.
halaman ke-1 dari 4
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top