Pantau Efek Gempa Cianjur, Badan Geologi: Aktivitas Gunung Gede Masih Normal

Rabu, 23 November 2022 - 09:11 WIB
loading...
Pantau Efek Gempa Cianjur, Badan Geologi: Aktivitas Gunung Gede Masih Normal
Badan Geologi Kementerian ESDM menyebutkan aktvitas gempa bumi di Cianjur bukan dari peningkatan aktivitas Gunung Gede. Foto/Dok SINDOnews
A A A
JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memberikan penjelasan mengenai gempa bumi di Cianjur dengan Magnitudo 5,5 pada kedalaman 10 KM. Hasil analisis melaporkan pemicu kegempaan bukan dari peningkatan aktivitas Gunung Gede.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hendra Gunawan mengatakan bahwa kondisi Gunung Gede di Bogor, saat ini masih dalam level 1 atau normal.

”Dari data saat ini, tidak ditemukan adanya peningkatan aktivitas Gunung Gede, sehingga diharapkan masyarakat untuk tetap tenang,” kata Hendra dalam keteranganya, dikutip Rabu (23/11/2022). Baca juga: Apa Itu Sesar Cimandiri Penyebab Gempa Cianjur

Gunung Gede pernah terjadi krisis kegempaan sekitar tahun 1950-an, dan setelah diteliti, karakter dari Gunung Gede tersebut muncul krisis kegempaan setiap 20 tahun. Meskipun begitu, aktivitas Gunung Gede tidak pernah berlanjut menjadi level yang lebih tinggi.

”Terlepas dari historisnya, Gunung Gede di Bogor pernah erupsi, baik berupa awan panas ataupun aliran lava, namun, dari 100 hingga 200 tahun terakhir belum menunjukkan adanya peningkatan,” tuturnya.



Hendra menjelaskan, bahwa daerah yang menjadi pusat sumber gempa tersebut merupakan kawasan rawan bencana gempa bumi, dimana struktur tanah atau batuannya kurang terkonsolidasi. Baca juga: Dampak Gempa Cianjur, 22.198 Rumah Rusak

Karena batuannya relatif mudah, apabila terjadi gempa bumi, akan memperkuat efek dari guncangan gempa. BMKG menyebutkansumber gempa merupakan gempa bumi dangkal yang tidak jauh dari patahan aktif sesar Baribis.

Hendra mengungkapkan bahwa hal terpenting dalam bencana gempa bumi adalah bagaimana mengidentifikasi daerah-daerah dengan resiko tinggi ataupun rendah, sehingga Pemda mempunyai acuan dalam pengembangan tata ruang untuk pembangunan di wilayahnya.
(ams)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1546 seconds (11.252#12.26)