Profil Soekarno Djojonegoro, Jenderal Garang yang Menjadi Menteri Penasihat Presiden

Senin, 26 September 2022 - 08:47 WIB
loading...
Profil Soekarno Djojonegoro, Jenderal Garang yang Menjadi Menteri Penasihat Presiden
Jenderal Polisi (Purn) Raden Soekarno Djojonegoro merupakan Kapolri (Kepala Kepolisian Negara) yang tugasnya banyak diwarnai dengan konflik dan pemberontakan. Foto: Dok/Wikipedia
A A A
JAKARTA - Jenderal Polisi (Purn) Raden Soekarno Djojonegoro merupakan Kapolri (dulu Kepala Kepolisian Negara) yang dikenal garang dan tegas. Saat menjabat Kapolri tugasnya banyak diwarnai dengan konflik dan pemberontakan.

Ia dilantik jadi Kepala Kepolisian Negara kedua pada 15 Desember 1959 menggantikan Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo. Pria kelahiran Banjarnegara, 15 Mei 1908, ini menjabat Kepala Kepolisian Negara dari 15 Desember 1959 hingga 29 Desember 1963.

Dirangkum dari berbagai sumber, masa kepemimpinannya diwarnai dengan konflik Irian Barat dengan Belanda, dan pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan PKI, DI/TII, APRA, dan lain-lain. Namun hal-hal tersebut ditanganinya dengan baik dan berhasil.

Beberapa peristiwa penting semasa ia menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara, antara lain Kepolisan Negara bergabung dalam ABRI (1960). Pada 1 Juli 1960, empat janji prajurit kepolisian "Catur Prasetya" diikrarkan.

Baca juga: Profil Jenderal Bambang Hendarso Danuri, Mantan Kapolri yang Bertabur Banyak Penghargaan

Kemudian pada April 1961 Catur Prasetya resmi dijadikan pedoman kerja kepolisian RI selain Tribrata sebagai pedoman hidup. Pada tahun 1962 Kepolisian Negara Republik Indonesia berubah nama menjadi Angkatan Kepolisian RI (AKRI).

Soekarno lahir dari kalangan ningrat. Sang ayah waktu itu, Raden Adipati Ario Djajanagoro II merupakan Bupati Banjarnegara. Sedangkan ibunya bernama Raden Ajeng Rachmat Mangoenprawiro.

Pada tahun 1914, Soekarno masuk sekolah di Hollands Inlandsche School (HIS). Ia tidak pintar tapi tekun. Seperti kebanyakan anak kecil, seusai sekolah ia biasa bermain. Kegemarannya adalah menonton wayang semalam suntuk. Setelah lulus dari HIS, pada bulan Juli 1918, Soekanto melanjutkan sekolah MULO di Purwokerto.

Selama bersekolah di MULO, Soekanto cukup disenangi dan dikenal oleh teman-temanya karena kebiasaannya melawak. Pada tahun 1925, Sokarno Djojonagoro terpilih menjadi Ketua Jong Java daerah Purwokerto. Setelah lulus dari MULO, pada bulan Juli 1926 ia melanjutkan sekolahnya di Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaar (Osvia) di Magelang.

Baca juga: Berani Konfrontasi, Mantan Kapolri Ini Disegani Jenderal TNI LB Moerdani
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1724 seconds (11.210#12.26)