Berani Konfrontasi, Mantan Kapolri Ini Disegani Jenderal TNI LB Moerdani

Rabu, 21 September 2022 - 09:30 WIB
loading...
A A A
Mereka terpilih mengikuti pendidikan infanteri karena Presiden Soekarno sengaja tidak mengirim “para pesaingnya” dari perwira Angkatan Darat. Perwira Polri yang mendapat pendidikan di AS adalah Tentara Pelajar sehingga Soekarno mempunyai argument kuat untuk mengirim mereka.

Anton juga pernah membentuk Detasemen Khusus (Densus) Alap-Alap untuk operasi infiltrasi ke Timor Timur. Ketika itu, Anton masih berpangkat kolonel.

Densus ini terdiri dari satu kompi Brimob eks Resimen Pelopor di Kelapa Dua dan beberapa mantan anggota Pelopor dari berbagai kesatuan di Polda Metro Jaya.

Bisa dikatakan pembentukan Densus ini sangat terburu-buru sehingga anggotanya kurang memiliki kualifikasi untuk diterjunkan dalam pertempuran.

Dikutip dari buku Resimen Pelopor (Edisi Revisi), Pasukan Elite Yang Terlupakan, ada beberapa alasan Densus ini kurang siap bertempur. Pertama, waktu yang diberikan untuk mempersiapkan diri sebelum infiltrasi ke wilayah asing hanya satu minggu.

Kedua, sebagian besar anggota Densus berasal dari satuan Reskrim, Intelkam, dan Lalu Lintas meski mereka adalah anggota Resimen Pelopor. Namun, sejak tahun 1969 mereka tidak pernah latihan tempur.

Ironisnya lagi, sebagian besar anggota Densus Alap-Alap adalah lulusan Pelopor tahun 1968. Artinya, mereka belum pernah turun dalam operasi tempur. Namun, karena telah memenuhi kualifikasi Bala, maka dianggap memenuhi syarat untuk melakukan infiltrasi.
Baca juga: Jenderal Polisi Ini Tegur Kapolres karena Parkir Mantan Resimen Pelopor Brimob

Anggota Densus Alap-Alap juga tak membawa seragam Brimob melainkan pakaian sipil, celana jeans, dan kaus oblong. Dalam operasi penyusupan, Densus diberi tugas menggali informasi intelijen di Kota Atabae. Di kota ini terdapat markas pasukan Kavaleri Tropaz dengan kekuatan hampir satu batalion.

Di lapangan, Densus Alap-Alap mendapat fakta bahwa Fretilin memiliki pendukung sangat besar yang berpotensi menyulitkan pelaksanaan operasi militer dalam skala besar.

Sekada mengingatkan, sebelum menjabat Kapolri, Anton Soedjarwo pernah menduduki jabatan strategis antara lain Ajudan Kapolri Sukanto Tjokrodiatmodjo (1956); Komandan Kores 102, Kodak 10 di Malang (1972-1974); Komandan Komando Daerah Kepolisian (Kodak) 11 Kalimantan Barat (1974); Komandan Kodak 2 Sumatera Utara (1978); Brigjen Pol kemudian Mayjen Pol Kodak 7 Jakarta Raya (1978-1982).
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1669 seconds (11.210#12.26)