Cerita Korban Selamat dari Banjir dan Longsor Pamijahan Bogor yang Mengerikan

Jum'at, 24 Juni 2022 - 19:59 WIB
loading...
Cerita Korban Selamat dari Banjir dan Longsor Pamijahan Bogor yang Mengerikan
Bencana banjir dan longsor menerjang Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Foto: MPI/Putra Ramadhani Astyawan
A A A
BOGOR - Bencana banjir dan longsor menerjang Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Musibah tersebut meratakan rumah hingga memutus beberapa jembatan akses warga sekitar.

Salah satu jembatan yang putus berada di Kampung Cimanggu. Jembatan yang cukup lebar itu putus diterjang banjir.
Baca juga: Banjir dan Longsor Terjang Pamijahan Bogor, Belasan Rumah Rusak dan 2 Jembatan Putus

Beberapa bangunan rumah warga yang berada di pinggir Kali Cisarua rata dengan tanah. Kolam ikan atau tambak milik warga hanyut terbawa banjir bercampur lumpur dan batu.

Warga Cibunian bernama Ocang (50) mengatakan, jembatan putus di kampungnya karena diterjang banjir merupakan akses utama dari Kampung Cimanggu dengan Purasari, Kecamatan Leuwiliang.

"Ini Desa Cibunian, kampungnya Cimanggu. Ini bisa juga akses ke Purasari, Leuwiliang," ujar Ocang, Jumat (24/6/2022).
Baca juga: Longsor Terjang Pamijahan Bogor, Satu Warga Tewas

Ocang menceritakan detik-detik sebelum banjir melanda kampungnya pada Rabu 22 Juni 2022. Banjir diawali suara gemuruh dari hulu kali dan beberapa pohon besar di pinggiran roboh.

"Mula-mula biasa saja tiba-tiba naik. Jam 6 waktu sholat Maghrib semua masuk dikarenakan air mulai surut. Ternyata begitu sembahyang pohon ini sudah kedengeran, ternyata jatuh kena air besar," ungkapnya.

Dia langsung melompat melalui dapur untuk menyelamatkan diri. Setelah berhasil keluar, air yang lebih besar datang dan menghancurkan rumahnya.

"Saya sendirian karena istri sudah lari ke sana. Rumah kena air, ini air dari sana ada suara kayak angin puting beliung. Ternyata air datang pas saya lihat dari pintu belakang ada air sedada. Saya lompat jatuh, saya mandi lumpur," kata Ocang.

Banjir kali ini yang terparah sejak puluhan tahun silam. Beruntung, dia masih bisa menyelamatkan diri keluar dari rumah.

"Kata orang tua (banjir besar terakhir) tahun 1946. Kalau yang terendam ada 15 yang terdampak di sini. Kemarin nggak sempat ngambil apa-apa, air kayak ombak laut masuk," tuturnya.

Senada dengan Ocang. Warga lainnya Endang (45) juga menjadi korban terdampak banjir dan longsor. Beruntung, nyawanya dan keluarga masih selamat dari banjir.

"Alhamdulillah mertua saya buru-buru keluar dari rumah dan langsung lari ke atas, ke rumah saya. Cuma kalau harta benda nggak bisa diselamatkan sudah terbawa hanyut semua," ujar Endang.
(jon)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1407 seconds (11.97#12.26)