Penamaan Nama Jalan Merupakan Bentuk Hubungan Resiprokal Kedua Negara

Senin, 18 Oktober 2021 - 07:13 WIB
Penamaan Nama Jalan Merupakan Bentuk Hubungan Resiprokal Kedua Negara
Akademisi Kajian Timur Tengah dan Islam Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI), Dr. Syauqillah. Foto: Ist
A A A
JAKARTA - Rencana pemerintah DKIJakarta mengubah salah satu nama jalan diMenteng, Jakarta Pusat, menjadi nama tokoh Turki, Mustafa Kemal Ataturk menuai polemik dari berbagai kalangan, baik pro maupun kontra.

Menurut Akademisi Kajian Timur Tengah dan Islam Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG UI), Dr. Syauqillah, penamaan jalan merupakan bentuk hubungan resiprokal dalam konteks diplomasi kedua negara, dimana founding father Indonesia Sukarno telah menjadi nama jalan di Ibu Kota Turki, Ankara. Baca juga: Pembangunan Simpang Temu Dukuh Atas Dimulai, Anies: Jakarta Akan Sejajar Kota-kota Besar di Dunia

"Ataturk dalam bahasa Turki berarti bapak Turki, memiliki kesamaan peran historis dengan Sukarno dalam konteks perlawanan kolonialisme," kata Syauqillah di Jakarta, Senin (18/10/2021).

Ia mengatakan, Erdogan yang memiliki banyak simpatisan dan pengagum di Indonesia, adalah sosok yang mengagumi Mustafa Kemal Ataturk. Hal itu, lanjutnya, seringkali ditemukan dalam peresmian megaproyek AKP, foto Erdogan bersanding dengan Kemal Ataturk.



"Ada pandangan di Turki bahwa Erdogan adalah sosok yang mampu mentransformasikan ajaran Mustafa Kemal Ataturk di era modern saat ini," ujarnya.

Ia menegaskan, Kemal Ataturk adalah sosok yang berhasil menanamkan nilai-nilai persatuan, yang menjadikan Turki dapat melewati beberapa fase sulit dalam kesejarahannya. Berbeda dengan dunia Arab lainnya, yang mudah sekali terjadi perpecahan bahkan konflik internal. Baca juga: Mustafa Kemal Ataturk Bakal Jadi Nama Jalan di Jakarta, Ariza: Bagian dari Kerja Sama

Nilai nasionalisme yang ditanamkan oleh Mustafa Kemal Ataturk dapat dinilai menyatukan Turki saat peristiwa Gezi Park 2013. Demo hampir sebulan penuh saat itu, banyak pengamat luar negeri menilai Turki akan terdampak Arab Spring dan memiliki nasib seperti beberapa negara tetangganya, mengalami konflik internal, nyatanya Turki tetap bersatu.

"Perlawanan percobaan kudeta 2016 juga dapat memperlihatkan betapa nasionalisme yang diwariskan oleh Kemal Ataturk mampu menggerakan demonstran melawan percobaan kudeta, hanya dengan bekal genggaman bendera Turki," tukasnya.
(mhd)
Mungkin Anda Suka
Komentar
Copyright © 2021 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2368 seconds (11.210#12.26)