10 Hari Tarawih, Satgas Covid-19 Tak Menemukan Klaster Baru Rumah Ibadah

loading...
10 Hari Tarawih, Satgas Covid-19 Tak Menemukan Klaster Baru Rumah Ibadah
Salat Tarawih berjamaah. Foto/Ilustrasi/SINDOphoto
DEPOK - Memasuki 10 hari pelaksanaan ibadah tarawih , Satgas Covid-19 Kota Depok belum menemukan adanya klaster baru . Oleh karena itu, seluruh warga dan pihak terkait tetap patuh pada aturan protokol kesehatan yang berlaku agar tidak terjadi klaster baru dari kegiatan ibadah tarawih.

“Sementara ini sampai dengan saat ini belum ditemukan klaster dari kegiatan tarawih di Kota Depok ya, jadi belum ada. Mudah-mudahan ini warga ketat melakukan prokes,” kata Jubir Satgas Covid-19 Kota Depok Dadang Wihana, Rabu (21/4/2021).

Yang ditemukan pihaknya justru adanya klaster dari tempat rekreasi. Dimana ada warga di salah satu kelurahan berekreasi ke suatu tempat dan mereka terpapar. Namun Dadang tidak menyebutkan lokasi pastinya.

“Yang ada itu klaster rekreasi, ada di salah satu kelurahan mereka melakukan rekreasi ke suatu tempat, mereka terpapar,” ujarnya. Baca juga: Hari ke-7 Ramadhan, Jamaah Sholat Tarawih Mulai Menyusut

Dalam pelaksanaan ibadah tarawih, sebut Dadang, Satgas gabungan selalu melalukan pemantauan. Satgas turun langsung dan mengecek pelaksanaan di masjid-masjid yang menggelar ibadah tarawih. Secara keseluruhan, pelaksanaan ibadah sesuai dengan prokes yang berlaku.



“Satpol PP TNI Polri di tingkat kecamatan dan kelurahan itu senantiasa turun kelapangan untuk mengingatkan protokol kesehatan. Mayoritas mereka mengikuti prokes tapi ada juga, secara mayoritas mematuhi,” katanya.

Dadang menegaskan, yang perlu dilakukan yaitu frekuensi setiap hari dan waktu yang digunakan terlalu lama ini yang harus dievaluasi. Jadi dalam surat edaran penyelenggaraan Ramadan, misalnya kultum maksimal sepuluh menit.

“Bukan kita membatasi kegiatan keagamaan. Bukan kita membatasi tapi dilakukan pengaturan,” ucapnya. Baca juga: Cegah Klaster Baru di Pesantren, Ini Rekomendasi Serikat Guru Indonesia

Terkait larangan mudik, Dadang menjelaskan sesuai dengan SE Kasatgas Pusat maka ditiadakan sejak 6-17 Mei 2021. Dari pantauan pihaknya di Terminal Jatijajar saat ini tidak terjadi lonjakan sebagai antisipasi warga yang melakukan mudik lebih awal.

“Tapi hasil pantauan di lapangan di terminal Jatijajar tidak terjadi lonjakan penumpang yang terjadi minggu ini dan kemarin,” katanya.



Yang terjadi pada awal Ramadhan justru adanya penurunan penumpang sampai dibawah 300 orang per hati. Dengan estimasi penumpang per bus hanya sekitar 10 orang saja.

“Malah diawal Ramadan terjadi penurunan untuk penumpang di bawah 300 orang perhari. Perbis itu rata-rata hanya terisi sepuluh orang. Kalau liat dari muatan sampai saat belum terjadi lonjakan,” pungkasnya.
(mhd)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top