Kota Bogor Siapkan Pembelajaran Tatap Muka, Kantin dan Ekstrakurikuler Dilarang

loading...
Kota Bogor Siapkan Pembelajaran Tatap Muka, Kantin dan Ekstrakurikuler Dilarang
Pemkot Bogor tengah mempersiapkan pembelajaran tatap muka (PTM) alternatif untuk SD, SMP dan SMA atau sederajat.Foto/SINDOnews/Ilustrasi.dok
BOGOR - Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tengah mempersiapkan pembelajaran tatap muka (PTM) alternatif untuk SD, SMP dan SMA atau sederajat. Keberadaan kantin dan ekstrakurikuler belum diperbolehkan beroperasi di sekolah.

"Kalau dari pusat menjadwalkan pelaksanaan tatap muka Juli mendatang," ungkap Kepala Disdik Kota Bogor, Hanafi, sebagaimana dilansir laman resmi Pemkot Bogor yang dikutip, Senin (12/4/2021). Hanafi mengatakan, secara umum semua daerah mempersiapkan pelaksanaan tatap muka.

Nantinya pembelajaran tatap muka ini hanya kegiatan belajar mengajar saja alias kantin dan ekstrakurikuler belum diperbolehkan beroperasi, sehingga anak-anak harus membawa bekal dari rumah. "Disdik mengambil langkah teknis dengan membentuk Satgas Covid-19 pelajar, beberapa sekolah sudah mempersiapkan sarana prasarananya. Mulai dari tempat mencuci tangan, desinfektan, cek suhu dan nanti dilakukan uji coba terlebih dahulu," tutur Hanafi.

Khusus Sekolah Dasar (SD), kata dia, situasinya lebih pelik mengingat jumlah SD di Kota Bogor cukup banyak, siswanya pun banyak dan yang paling dikhawatirkan penerapan 3M, terutama jaga jarak sesama siswa. Baca: Sosialisasikan Larangan Mudik, Polda Metro Gelar Operasi Keselamatan Jaya

Pihaknya pun akan mempersiapkan dengan matang sebelum membuka sekolah, sementara TK dan Paud perlu ditinjau kembali mengingat resikonya lebih besar."Sebelum tatap muka, kami akan minta persetujuan orang tua melalui polling, apakah orang tua setuju sekolah dibuka atau tidak," imbuhnya.



Disdik merencanakan beberapa alternatif untuk pembelajaran tatap muka ke depan. Sebab, pembelajaran tatap muka tidak akan 100 persen atau akan dibagi 30 persen tatap muka dan 70 persen daring. Alternatif lainnya setiap kelas masuk bergantian mulai dari kelas 9, kelas 8 dan kelas 7 namun ini sedikit akan repot.

"Alternatif ketiga dilakukan per-pekan, satu minggu sekali dengan jumlah 50:50 persen dan sepertinya ini lebih efektif karena bisa dimonitor kondisi siswanya," terangnya. Ia menambahkan, SMA walaupun urusan provinsi tapi lokasinya ada di Kota Bogor tetap menjadi perhatian Disdik. Kekhawatiran SMA setelah pulang sekolah apakah langsung pulang ke rumah atau tidak.

"Jadi kami harus koordinasikan ke Satgas Covid-19 Kota Bogor, Dewan Pendidikan dan lainnya. Kami juga akan uji coba PTM beberapa sekolah yang sudah membuat video," katanya.
(hab)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top