alexametrics

Pembangunan MRT Fase II dan III Dilakukan Berbarengan

loading...
Pembangunan MRT Fase II dan III Dilakukan Berbarengan
Rangkaian kereta MRT saat melinatas di jalur layang Fatmawati, Jakarta Selatan. Pembangunan MRT Fase II dan III akan dilakukan berbarengan.Foto/SINDOphoto/Dok
A+ A-
JAKARTA - Moda transportasi massal berbasis rel atau Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta terus dikembangkan. Setelah mengerjakan Utara-Selatan, MRT Timur-Barat segera dibangun pada 2020.


Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Syahbandar mengatakan, saat ini tengah memprioritaskan pembangunan MRT fase III Kalideres-Ujung Menteng yang menjadi bagian MRT Barat-Timur Balaraja-Cikarang. Sebab, Kalideres-Ujung Menteng sepanjang 31 kilometer berada di dalam kota Jakarta.

Menurutnya, pembangunan fase III tersebut akan berlangsung pada pertengahan 2020 mendatang. "Kita lakukan berbarengan dengan pengerjaan Fase II Bundaran HI-Kota yang kini sudah masuk dalam pengecoran di kawasan Monas. Kami harus lakukan pengerjaan secara pararel," kata William Syahbandar di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (25/7/2019).



William menjelaskan, studi konsultan MRT Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration (Jutpi) menyatakan bahwa ada 10 jalur MRT yang harus dibangun hingga 2030 dengan jarak sepanjang 231 kilometer. Sementara untuk fase I sepanjang 24 kilometer dari Lebak Bulus-Ancol Barat membutuhkan waktu 10 tahun.

Dimana, dari Lebak Bulus- Bundaran HI yang dikerjakan sejak 2013 baru selesai di 2019 dan fase II dari Bundaran HI- Ancol Barat ditargetkan selesai 2024. Hal tersebut dikarenakan menunggu pembangunan satu selesai, baru dilanjutkan.

Untuk mempercepat pembangunan MRT sesuai studi Jutpi, lanjut William, pengerjaan koridor MRT harus dilakukan secara paralel. Artinya, setiap tahun harus ada pengerjaan tiap jalur yang berbeda. Seperti misalnya tahun ini fase II Bundaran HI-Ancol Barat, tahun besok yaitu fase III Kalideres-Ujung Menteng.

"Dukungan politik sudah ada. Presiden sudah menyampaikan segera fase tiga, dukungan kementerian, Gubernur DKI Jakarta penuh. sehingga persoalan sekarang adalah aspek regulasi, pendanaan, dan teknis," ungkapnya.(Baca: Tahun Depan, Fase III MRT Kalideres ke Ujung Menteng Dicanangkan)

Saat ini, lanjut William, pihaknya tengah memperkenalkan MRT fase III dan mencari donor dana pinjaman agar pembangunan bisa berjalan sesuai rencana. Dia berharap agar pemerintah mendukung dengan menjadikan fase III sebagai program strategis nasional dan memberikan kesempatan kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) mendapatkan pinjaman langsung dari pihak swasta dan sebagainya.

"Kalau kita menggunakan anggaran daerah melalui pinjaman dari Jepang seperti pada fase I itu prosesnya lama. Kita butuh dana cepat Rp53 triliun untuk membangun fase III," ungkapnya.

Terkait pembebasan lahan yang kerap menjadi kendala ketika pembangunan dimulai, William menuturkan, saat ini pihaknya tengah memetakan area lahan yang akan terkena pembangunan. Menurutnya MRT sangat terbuka kepada siapapun, khususnya pihak swasta yang ingin membantu pembebasan lahan tersebut. Sebab, sebagaimana fase I menunjukkan peningkatan bisnis dua sampai tiga kali lipat peningkatan ketika MRT beroperasi.

"Tingkatan bisnis anda lihat sendiri di Lebak Bulus ini 2-3 kali peningkatannya, di Blok M itu sampai tiga kali. Jadi itu akan memberikan peningkatan nilai kawasan dan kita terbuka untuk membicarakan soal pembebasan lahan secara business to business. Kita akan studikan, mudah mudahan bisa jadi bagian studi yang dikerjakan," pungkasnya.

Sementara itu, anggota komisi B DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike mendukung penuh pembangunan transportasi massal, apalagi berbasis rel seperti MRT. Namun, dirinya meminta agar PT MRT benar-benar memiliki kajian yang matang agar apa yang dikerjakan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Politisi PDI Perjuangan itu menilai bahwa pembangunan yang dilakukan secara paralel akan berbuah dampak, salah satunya kemacetan. Sementara angkutan umum bus yang sudah ada belum ada peningkatan dan pelayanan hingga ke pemukiman seperti apa yang diinginkan.

"Bagaimana tuh kalau kemacetan. Jangan cuma bilang maaf ini konsekuensi pembangunan. Nanti kalau jadi juga tidak macet. Itu tidak boleh. Semua harus dipikirkan," ungkapnya.
(whb)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak