alexametrics

Ali Dibunuh karena Masukkan Pelaku ke Group WhatsApp LGBT

loading...
Ali Dibunuh karena Masukkan Pelaku ke Group WhatsApp LGBT
Foto/SINDOnews/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Motif pembunuhan Ali Rahman (34) yang dilakukan Petrus Paulus Ualubun (21) dilatarbelakangi sakit hati. Petrus tidak terima nomor ponselnya dimasukkan ke group WhatsApp khusus LGBT  (lesbian, gay, biseksual, dan transgender).

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, petugas Polrestro Jakarta Timur menangkap Petrus di Jalan Raya Serang RT 12/06 No 33, Desa Sukadami, Kecamatan Cikarang Selatan pada Selasa (17/4/2018) sekitar pukul 06.45 WIB. Penangkapan terhadap Petrus ini dilakukan polisi beberapa jam setelah menerima laporan temuan mayat korban pembunuhan di Cawang, Jakarta Timur.

"Pelaku membunuh korban dengan senjata tajam. Di tubuh korban ditemukan luka akibat senjata tajam pada bagian pergelangan tangan kiri, pelipis kiri, mata kiri, dada kanan, punggung kanan, paha kanan dan meninggal di TKP," kata Argo pada wartawan Selasa (17/4/2018).

Kapolres Jakarta Timur Kombes Pol Tony Surya Putra mengungkapkan, pembunuhan yang dilakukan Paulus lantaran kesal korban memasukkan nomor ponselnya kegrup chatting WhatsApp (WA) LGBT. Tidak hanya itu, Ali bahkan meminta Petrus mengirimkan foto alat kelamin dan dibagi dalam grup.(Baca: Polisi Ringkus Pembunuh Ali yang Ditemukan Tewas di Cawang)

"Petrus  marah, karena dia bukan LGBT. Dia menolak permintaan itu. Tersangka marah karena namanya dimasukkan ke dalam grup itu. Dia mempertanyakan kepada pelaku, kenapa dimasukkan ke grup itu," ungkap Tony.(Baca: Seorang Pria Ditemukan Tewas di Cawang)

Akhirnya, lanjut Tony, pelaku memanggil korban hingga terjadilah pembunuhan tersebut. Atas perbuatannya kini pelaku mendekam di tahanan dan akan dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.
(whb)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak