Preman di Tanjung Priok Tak Punya Rasa Takut, Polisi: Mereka seperti Duri Dalam Daging

loading...
Preman di Tanjung Priok Tak Punya Rasa Takut, Polisi: Mereka seperti Duri Dalam Daging
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus saat konferensi pers di Mapolres Jakarta Utara, Jumat (11/6/2021). Foto: SINDOnews/Yohannes Tobing
JAKARTA - Polisi mencokok puluhan preman yang kerap melakukan pungutan liar (pungli) atau pemalakan terhadap sopir truk kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok. Polisi berjanji akan mengungkap tuntas kasus pungutan liar (pungli) ini hingga ke akar-akarnya.

Diketahui pungli terhadap para sopir angkutan barang di wilayah Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara terbongkar usai kunjungan Presiden Jokowi ke Pelabuhan Tanjung Priok, Kamis (10/6/2021).



Baca juga: Preman Tukang Palak di Tanjung Priok Sebut Polisi sebagai Gerombolan

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, para preman atau pelaku pungutan liar ini seperti duri dalam daging. Mereka tidak memiliki rasa takut dengan aksi yang sudah meresahkan masyarakat dan menggangu pertumbuhan ekonomi itu.

Aksi pungutan liar terhadap para sopir ini sudah cukup lama berlangsung, bahkan sudah sering ditindak oleh petugas. Tetapi pelaku tidak jera dan kembali melakukan aksinya.

Baca juga: Setelah Jokowi Telepon Kapolri, 24 Preman di Jakarta Utara Langsung Disikat

"Makanya kami sampaikan, stop hari ini, penyakit masyarakat ini. Penangkapan ini efek jera supaya yang lain jangan coba coba bermain apalagi dia (pelaku) berstatus pegawai di situ," tegas Yusri di Mapolres Jakarta Utara, Jumat (11/6/2021).

Yusri berharap adanya dukungan dan bantuan dari masyarakat untuk bersama-sama memecahkan masalah ini.

Dalam mengungkap kasus ini pihaknya akan duduk bersama dengan stakeholder atau instansi terkait di wilayah Pelabuhan Tanjung Priok.

Baca juga: Bukan Cuma Preman, Pelaku Pemalak Sopir Mulai dari Satpam, Karyawan, hingga ‘Pak Ogah’



"Perlu kita duduk bersama stakeholder terkait, baik dari otoritas pelabuhan sendiri, Pelindo, atau perusahaan. Karena kami mengharapkan pelaku ini kita jerat dengan hukuman dan rekomendasikan pemecatan," katanya.
(thm)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top