alexametrics

SINDO Goes to Campus: Jurnalis Harus Bisa Membedakan Mana Fakta dan Fiksi

loading...
SINDO Goes to Campus: Jurnalis Harus Bisa Membedakan Mana Fakta dan Fiksi
SINDO Goes to Campus: Jurnalis Harus Bisa Membedakan Mana Fakta dan Fiksi
A+ A-
DEPOK - Acara Sindo Goes to Campus (SGTC) diisi dengan pembicara handal di bidangnya. Pada sesi awal pembukaan, mahasiswa diberikan pemaparan mengenai perbedaan media mainstream dan sosial media yang diberikan oleh Pemimpin Redaksi KORAN SINDO dan SINDOnews, Djaka Susila.

Pada sesi selanjutnya adalah pemaparan mengenai dunia digital khususnya sosial media. Pada sesi ini pemaparan diberikan oleh Wakil Redaktur Pelaksana SINDO Media, Armydian Kurniawan. Dia menjelaskan bagaimana sosmed sangat memengaruhi sikap seseorang.

"Berawal dari perasaan yang dipengaruhi oleh sosmed, kemudian akan memengaruhi sikap kita dan pada akhirnya mempengaruhi tindakan kita. Sebegitu hebatnya pengaruh sosmed dalam kehidupan kita saat ini," kata Army, Rabu (26/2/2020).



Lebih dalam dijabarkan bahwa dalam media mainstream, modal utama yang harus dipegang teguh adalah kepercayaan. Ini yang menjadi modal media mainstream dalam menjalankan roda informasi dan bisnis media.(Baca: Mahasiswa PNJ Antusias Ikuti SINDO Goes to Campus)

"Bisnis media itu pada di-trust. Kalau kepercayaan itu tidak ada maka audience pun akan pergi. Nah kalau tidak ada audience maka pengiklan pun tidak akan ada. Trust itu berkaitan dengan reputasi. Itulah penting sekali untuk menjaga reputasi media," tegasnya.

Menjaga reputasi dalam menyajikan berita di sebuah media dilakukan dengan berbagai cara. Yang utama adalah dengan melakukan kurasi informasi yang didapat dan memverifikasi dengan sangat baik. "Kalau reputasi tidak ada maka bisnis media sangat sulit dijalankan," ujarnya.

Perkembangan digital saat ini lanjutnya juga menyumbangkan penyebaran hoaks. Bahkan tak jarang media mainstream menjadi korban dari media sosial. Hal itu bukan tanpa alasan, karena saat ini sosmed seolah menjadi acuan bagi masyarakat dalam mendapatkan informasi.

"Media mainstream kadang dipojokan oleh sosmed. Namun kita tetap harus cerdas mencerna informasi," ungkapnya.(Baca: Mahasiswa PNJ Dapat Ilmu Banyak dari SINDO Goes to Campus)

Di penghujung sesi, Army memberikan tips bagaimana menjadi jurnalis yang baik. Antara lain meningkatkan minat baca dan bisa membedakan mana fakta serta fiksi. "Kita harus melengkapi tulisan dengan acuan data. Kalau menerima informasi jangan langsung percaya, kita harus gali dulu kebenarannya," tambahnya.

Tips selanjutnya adalah ada baiknya melakukan komparasi informasi dari media lain yang terpercaya. "Kita juga harus saring informasi sebelum sharing. Lakukan juga riset sederhana terhadap informasi yang didapat. Yang penting juga adalah meminimalisir asumsi namun mengedepankan objektivitas," ucapnya.
(whb)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak