alexametrics

Pelajaran dari Aurel, Calon Paskibraka Tangsel Tewas dengan Luka Lebam

loading...
Pelajaran dari Aurel, Calon Paskibraka Tangsel Tewas dengan Luka Lebam
Suasana di rumah duka. Foto: SINDOnews/Hasan Kurniawan
A+ A-
TANGERANG SELATAN - Suara alarm berdering menujukkan pukul 01.00 WIB. Aurellia Qurratu Aini (16) pun terbangun. Begitu juga dengan sang ibunya, Sri Wahyuni. Tapi melihat jam masih pukul 1 pagi, Sri memilih tidur lagi.

Tiga jam berikunya, alarm berdering lagi. Kali ini jam menunjukkan pukul 04.00 WIB. Kali ini hanya Aurel yang terbangun. Dengan berat, Aurel melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi. Namun tiba-tiba, brukkk!!. Suara kencang orang terjatuh itu langsung membangunkan Sri dan suaminya Farid Abdul Rahman. Di ruang dapur, Aurel ternyata sudah tergeletak tidak sadarkan diri. Kedua orang tuanya lalu membawa Aurel ke rumah sakit.

Setibanya di RS Elang Medika Corpora, dokter langsung melakukan pemeriksaan dan penanganan. Malang, pihak dokter menyatakan Aurel sudah meninggal dunia. Aurel merupakan calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tahun 2019. Aurel meninggal pada Kamis 1 Agustus 2019 dan dimakamkan di TPU Selapajang.



Kematian Aurel diduga tidak wajar dan janggal. Pasalnya, ditemukan sejumlah luka lebam di tubuhnya. Satu lembar buku catatan hariannya pun dirobek, diduga oleh senior yang melatihnya di Paskibraka. Sejumlah pihak menduga Aurel dipelonco seniornya. Dukungan agar kematian Aurel diusut, kini bergulir. Polres Tangsel langsung melakukan penyelidikan.

Namun, pihak orang tua dan keluarga Aurel mengaku sudah ikhlas. Mereka sudah rela melepas kepergian putri kesayangannya itu, karena rasa cintanya yang sangat dalam. Farid Abdul Rahman, ayahanda Aurel saat ditemui di rumahnya, Perumahan Taman Royal II, Cipondoh, Kota Tangerang, mengaku memang curiga dengan luka lebam yang ada di bagian tubuh putrinya.

Pihak keluarga sebenarnya menduga ada ketidakwajaran dalam proses pelatihan calon Paskibraka yang digelar Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Tangsel itu. "Kami menginginkan adanya perubahan pola yang diterapkan, yang menurut kami, harusnya itu tidak sewajarnya dilakukan kepada Paskibraka," katanya.

Aurel merupakan siswi Kelas XI SMA Al Azhar, BSD, Kota Tangsel. Hubungan dengan sang ibu pun sangat dekat. Dia selalu bercerita tentang latihan yang dijalaninya dari hari ke hari. Sang ibu pun mengerti. Apalagi saat sekolah dulu, ibunda Aurel, Sri juga anggota Paskibraka. Jadi dia tahu kerasnya latihan anggota Paskibraka, sehingga jika ada yang janggal, dia tahu.

"Kami klarifikasi polisi bahwa harapan kami tidak ingin ada imbas lain, karena meninggalnya anak saya mengakibatkan sanksi hukum orang lain. Sudah cukup anak saya yang menjadi korban," ungkap Farid.

Malam sebelum meninggal, Aurel kerap tidur bersama dengan kedua orang tuanya. Saat sedang bersama-sama itulah, dia menceritakan latihannya kepada san ibu. "Waktu saya lihat tangannya luka, hitam, saya bilang, kamu push up kepal, dia jawab, iya. Push up kepal itu sudah menyalahi aturan. Bahkan di militer pun, push up kepal bagi laki-laki, bukan perempuan," kata Sri.

Kemudian, pada bagian tangannya ada spot hitam atau lebam. Saat ditanya seputar bekas itu, Aurel hanya mengaku bekas kena cubit. Padahal menurut Sri, tidak boleh ada body contact saat latihan. Masih ada spot hitam atau lebam lainnya di tubuh Aurel. Meski mengetahui ada yang janggal, pihak orang tua masih berpikir positif tentang pelatihan Paskibraka. Bahkan tetap tidak mau lapor ke polisi.

Sementara itu, praktisi pendidikan Ahmad Amarullah menyayangkan, insiden meninggalnya calon Paskibraka saat pelatihan. Ia menilai metode kekerasan di zaman ini sudah seharusnya ditinggalkan. Namun, dengan adanya peristiwa ini, membuktikan perpeloncoan senior terhadap juniornya itu masih menjadi budaya yang terpelihara.

"Peristiwa ini harus jadi pelajaran. Ya, bahwa untuk mendisiplinkan orang tidak harus melulu dengan cara-cara kekerasan. Banyak cara lain yang bisa diterapkan," paparnya.

Iapun mendorong agar aparat kepolisian dapat bekerja maksimal melakukan penyelidikan terhadap kasus ini, meski tidak ada laporan dari pihak keluarga korban. Sehingga, tidak terjadi lagi di masa depan. "Hal ini tidak boleh terjadi lagi. Ketika itu sudah terjadi, harus bertanggung jawab pelaku-pelaku itu, dan aturan hukum harus ditegakkan pihak berwajib," tandasnya.

Terpisah, Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Tangsel Warta Wijaya membantah ada kekerasan fisik saat latihan Paskibraka. Apalagi dalam pelatihan itu pihaknya mendapat pendampingan aparat TNI, sehingga hal itu tidak mungkin terjadi. "Enggak ada itu kontak fisik. Tetapi kalau latihan fisik pasti ada, itu olah tubuh, semacam lari dan sebagainya. Biasa saja, latihan rutin sejak pukul 07.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB," sebut Warta Wijaya.

Dia mengaku mengenal Aurel sebagai sosok dengan kondisi fisik prima. Selama proses latihan, Aurel bahkan tidak pernah masuk dan dirawat di ruang kesehatan. "Dia salah satu anggota Paskibraka terbaik kita. Bahkan, dianggap sebagai sosok yang kuat secara fisik. Itulah kenapa dia dipercaya untuk membawa baki. Orangnya baik dan sangat ramah," beber Warta.

Sementara itu, berita meninggalnya Aurel membuat Wakil Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie tersentuh. Saat mendengar kabar itu, Benyamin langsung melayat ke rumah duka. "Sedih rasanya saat mengetahui bahwa almarhumah adalah anak yang aktif, ceria, dan tidak pernah sakit selama mengikuti diklat Paskibraka. Malah almarhum dijagokan oleh seniornya," kata Benyamin.

Benyamin berharap dugaan kematian Aurel yang kurang wajar itu diusut. Sehingga tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain, maupun kepada pihak terkait.
(thm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak