alexametrics

Lima Bocah Tewas Tenggelam, Polisi Selidiki Dugaan Unsur Kelalaian

loading...
Lima Bocah Tewas Tenggelam, Polisi Selidiki Dugaan Unsur Kelalaian
Foto: Ilustrasi
A+ A-
BOGOR - Polisi menyelidiki dugaan kelalaian dalam peristiwa lima bocah SD yang tewas tenggelam di kolam retensi proyek perumahan Bukit Cimanggu City, Kampung Kedung Halang Poncol, Kelurahan Sukaresmi, Tanah Sareal, Kota Bogor. Polisi menyelidiki dugaan adanya unsur kelalaian yang dilakukan pengembang perumahan tersebut.

Kapolsek Tanah Sareal Kompol Muhammad Suprayogi hingga saat ini mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait adanya dugaan unsur kelalaian dalam kasus tewasnya lima bocah SD itu.

"Kita baru memeriksa orang-orang yang ada di lokasi saja. Seperti mandor, pekerja, pekerja inti dan warga, sedikitnya lima orang saksi sudah dimintai keterangan saat ini," kata Kompol Muhammad Suprayogi, saat dihubungi, Jumat (19/10/2018).

Lebih lanjut ia mengungkapkan pihaknya baru akan memeriksa PT Perdana Gapura Prima selaku pengembang perumahan Bukit Cimanggu City. "Untuk saat ini kita belum memeriksa kepada pimpinan proyek dan pengembang perumahan terkait keberadaan kubangan air tersebut. Sehingga belum sampai kepada adanya dugaan unsur kelalaian," jelasnya.

Akan tetapi jika dari mata penyidik, terkait dugaan unsur kelalaian pengembang, pihaknya masih merangkainya dengan memeriksa pekerja, mandor dan warga dulu. "Itu kita dalami seperti tindakannya apa saja untuk antisipasi terjadinya hal yang tak diinginkan, jadi belum sampai kesitu (kelalaian pengembang)," katanya.

Meski demikian, lanjut dia, dari hasil pemeriksaan terhadap sejumlah saksi pekerja proyek kubangan air itu sudah ada sejak sebelum dibeli oleh pengembang. "Karena itu ada sumber mata air yang ada sejak dulu bersama kebun jambu biasa dipergunakan warga dan setelah dibeli pengembang tetap dipake buat ngambil air untuk keperluan proyek perumahan, seperti membuat drainase," jelasnya.

Lantaran musim hujan tiga hari berturut-turut, sumber mata air itu menjadi kubangan yang cukup dalam tapi jernih. "Kubangan itu tak dibenteng atau dipagar, sehingga anak-anak tertarik bermain di area kubangan itu untuk berenang," jelasnya.

Menurutnya, sebelum pada korban bermain dan berenang, pihak mandor proyek beberapa kali melarang, tapi arena anak-anak dilarang tetap saja tak menggubris. "Terlebih saat kejadian para pekerja dan mandor sedang istirahat atau tidak ada ditempat pas jam bedug Dzuhur, nah anak-anak ini nekat bermain dan berenang," ungkapnya.

Saat kejadian, kata dia, korban yang sedang bermain air masuk ke kubangan sedalam 2,5 meter. Akibat tidak bisa berenang, anak-anak yang rata-rata berusia delapan tahun ini pun tenggelam. Satu di antarannya berteriak minta tolong.

"Ada warga bernama Pendi mendengar salah seorang korban bernama Mohamad Ilham teriak dan menghampiri langsung menolong memberikan napas buatan dan menekan dadannya. Dan selamat sadar kembali," katanya.

Namun, korban yang selamat menyebut ada teman-temannya di dalam kubangan tersebut. Pendi langsung berteriak meminta pertolongan warga lainnya dan melakukan pencarian.

"Warga melarikan seluruh korban ke Rumah Sakit Islam Bogor. Namun nyawa mereka tidak tertolong dan sudah meninggal dunia. Lima jenazah langsung dimakamkan Maghrib kemarin," jelasnya.

Sementara itu, Regional Head Developer Bukit Cimanggu City, Wishnu Lukito mengaku berduka dan sangat prihatin dengan kejadian tersebut. Bahkan, pihaknya sudah memberikan santunan sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap warga sekitar. "Kami sangat prihatin, kita berempati, kita merasakan juga ikut sedih dan berbela sungkawa," katanya.

Meski demkian pihaknya menepis jika lokasi kejadian dianggap sebagai kolam yang dibangunnya. Menurutnya lokasi tersebut merupakan tanah yang belum digarap untuk pekerjaan pembangunan.

"Karena sehari sebelumnya turun hujan deras membuat genangan air terlihat seperti kolam. Hari biasa juga ada genangan tapi tidak dalam. Kedepan kita tidak mau terulang lagi musibah itu, nanti kita konsolidasi lagi soal keamanan dan mengingatkan juga kepada ketua RT dan RW bahwa disitu bukan area untuk bermain anak," jelasnya.
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak