Ratusan Budayawan Demo Balai Kota Bogor, Bau Menyan Menyengat

Rabu, 13 Oktober 2021 - 16:13 WIB
loading...
Ratusan Budayawan Demo Balai Kota Bogor, Bau Menyan Menyengat
Ratusan budayawan dan ormas menggelar aksi unjuk rasa di halaman Balai Kota Bogor, Rabu (13/10/2021). Foto: MNC Portal/Putra Ramadhani Astyawan
A A A
BOGOR - Ratusan budayawan dan ormas menggelar aksi unjuk rasa di halaman Balai Kota Bogor, Rabu (13/10/2021). Dalam aksinya mereka membakar wangi-wangian berupa dupa, kemenyan, dan lainnya. Sontak, area Balai Kota langsung bau menyan menyengat.

Aksi ini mereka gelar untuk menolak wisata malam Glow di Kebun Raya Bogor (KRB) . Selain berorasi, mereka juga menggelar sejumlah atraksi kebudayaan berupa tari-tarian lengkap dengan sejumlah alat musik tradisional.

Baca juga: Mengintip Eduwisata Malam GLOW yang Bakal Mempercantik Kebun Raya Bogor

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim kemudian menemui massa. Di hadapan massa, Dedie berjanji akan mencarikan solusi.

"Kita sifatnya menjembatani aspirasi, akan dibuat sebuah tim atau kepanitiaan. Nantinya akan kita akomodir. Tujuannya untuk menampung lebih konkret, lebih detail apa-apa saja pokok-pokok pikiran yang harus kita sampaikan kepada pengelola," kata Dedie.

Ratusan Budayawan Demo Balai Kota Bogor, Bau Menyan Menyengat


Dia berharap tim kecil itu dapat melihat lebih jelas permasalahan atau keberatan dari pengunjuk rasa untuk diakomodir. Apabila terus berlarut, dikhawatirkan ditunggangi dan menjadi kontraproduktif.

Baca juga: 5.000 Tanaman di Kebun Raya Bogor Sudah Punya KTP Digital, Buat Apa?

"Tadi saya sudah sampaikan kalau bisa secepatnya. Nanti Kesbangpol menginventarisir siapa-siapa saja, tinggal kita coba dudukkan, kemudian kita akan coba cari akses kepada pengelola Kebun Raya. Kita sampaikan aspirasi yang baik ini," ungkapnya.

Di sisi lain, Dedie menilai keberadaan KRB untuk Pemkot Bogor tentunya menguntungkan sebagai penerima manfaat. Hanya saja, memang ada hal-hal yang perlu dikomunikasikan, terlebih kepada masyarakat terkait perubahan KRB, karena itu juga milik masyarakat.

"Mereka berpendapat ada beberapa peraturan yang bertentangan dengan perundang-undangan dengan dilaksanakannya wisata Glow ini. Saya juga belum lihat, terakhir itu kan Pemkot minta dikaji. Untuk proses pengkajian ini tentunya harus jalan dulu. Setelah jalan mungkin nanti baru kelihatan berapa serangga yang terdampak," tutup Dedie.
(thm)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1489 seconds (11.252#12.26)