Cerita Anies Hadapi Pandemi COVID-19 dengan Tiga Strategi Ini

loading...
Cerita Anies Hadapi Pandemi COVID-19 dengan Tiga Strategi Ini
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjadi salah satu pembicara dalam webinar BPK RI bertajuk Kebijakan Pemerintah Daerah, Peluang, Tantangan, dan Kepemimpinan di Masa dan Pasca Pandemi COVID-19. Foto/Ist
JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjadi salah satu pembicara dalam webinar BPK RI bertajuk 'Kebijakan Pemerintah Daerah, Peluang, Tantangan, dan Kepemimpinan di Masa dan Pasca Pandemi COVID-19 '.

"Yang sedang kita hadapi ini adalah urusan melibatkan seluruh rakyat, bukan hanya urusan yang melibatkatkan jajaran pemerintahan. Cara pandang kita terhadap seluruh permasalahan ini harus benar-benar tepat," ujar Anies dalam webinar, Kamis (17/6/2021). (Baca juga; Satgas Sebut Kenaikan Kasus COVID-19 Akibat Mobilitas saat Libur Panjang )

Anies menambahkan, pada 2020 ketika mendengar ada endemic yang terjadi di Wuhan, China, kemudian endemic bergerak jadi epidemic, tanggal 11 Maret 2020 WHO mendeklarasikan bahwa epidemic sudah berubah jadi pandemi. (Baca juga; Covid-19 Melonjak, Zulhas Usul Lockdown Akhir Pekan )

"Kata-katanya sangat sederhana sekali, epidemi jadi pandemic, tetapi konsekuensinya dasyat. Begitu disampaikan pandemi, maka ini adalah adalah peristiwa akan menyangkut semua orang di semua negara untuk waktu yang panjang. Jadi, saya tidak akan lewat tanggal 11 Maret dari memori kita, insyaallah, kita selalu ingat tanggal 11 Maret itu karena pada saat itulah WHO mendeklarasikan pandemi," tambahnya.

Begitu mendengar pandemi , Anies di pemerintahan harus menyadari seluruh rakyat akan terdampak, maka seluruh rakyat harus memiliki langkah yang sama, arah yang sama dengan apa yang dibutuhkan untuk menangani pandemi. Bagi rakyat, masyarakat mengikuti arahan di pemerintahan, maka pihaknya beranggapan harus bisa mendapatkan kepercayaan penuh.

"Jakarta sebagai tempat yang mengalami pertama, maka langkah yang kita lakukan seluruh kebijakan bertujuan mendapatkan kepercayaan penuh masyarakat. Kepercayaan itu unsurnya 3, satu integritas, dua kompetensi, tiga intimacy, kedekatan dengan rakyat," tegas Anies.



Integrity, arah kebijakan yang diambil olehnya harus menyampaikan apa adanya, tidak ditambah, tidak dikurangi, tidak ada yang ditutupi. Nomor 2, kata Anies, karena pandemi maka kita berhadapan dengan waktu yang panjang dan ini adalah krisis mencakup kesehatan, punya dampak pada sosial-ekonomi.

Langkah kedua adalah kita mendengarkan para ahli, bukan ahli virus, bukan ahli pengobatan medis, tapi ahli epidemiologi. "Para ahli epidemiologi kami kumpulkan, kami ajak bicara, dari situ kemudian mereka menyampaikan bahwa nomor 1 masyarakat belum paham apa yang harus dikerjakan," terang Anies.

Lalu ketiga, saat masuk fase sudah ada vaksinasi, sudah ada alat untuk meningkatkan imunitas, maka di situ Pemprov DKI lakukan penyiapan sistem melakukan vaksinasi massal. Bila Pemprov DKI bisa rata-rata melakukan vaksinasi 100.000 per hari, maka kemungkinn akhir Agustus pihaknya akan bisa memvaksin seluruh orang dewasa di Jakarta.

Strategi ketiga adalah peningkatan kapasitas vaksinasi, ini dilakukan dengan semua unsur pekerjaan bersama. Ini ada dua komponen utama satu adalah suplai, sisi kedua demandnya mendatangkan warga, ada yang inisiatif ada yang harus dimobiliasi.



"Dengan 3 strategi ini kita berharap bisa mempercepat tumbunya imunitas warga dan dengan begitu kita bisa memasuki masa ujung pandemi ini di Ibu Kota. Sebagai penutup saya garis bawahi di masa krisis ini, kesempatan melakukan perubahan, kami banyak melakukan terobosan, insyaallah kemudian akan memberikan manfaat menjadi kota yang tangguh dan resilience," tutup Anies.
(wib)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top