Perang Sarung, Permainan Candaan Anak-anak saat Ramadhan yang Kini Mematikan

Minggu, 25 April 2021 - 07:22 WIB
loading...
Perang Sarung, Permainan Candaan Anak-anak saat Ramadhan yang Kini Mematikan
Perang sarung telah berubah yang dulunya hanya becanda menjadi ajang melukai, mengeroyok hingga membunuh. Foto: Instagram
A A A
JAKARTA - Ramadhan disambut suka cita oleh semua orang, termasuk kalangan anak-anak. Apa sebab, ya karena mereka bisa melakukan perang sarung saat sahur atau selesai salat Subuh. Bahkan, permainan perang sarung bisa dikatakan sudah menjadi tradisi ketika bulan puasa yang tidak dijumpai di bulan-bulan lainnya.

Ironisnya, saat ini perang sarung telah berubah konsep yang dulunya hanya becanda menjadi ajang melukai, mengeroyok hingga membunuh.
Baca juga: Perang Sarung di Tangerang Telan Korban Jiwa, 2 Pelaku Ditangkap Bawa Celurit

Seperti yang terjadi di Bojong Nangka, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, beberapa waktu lalu. Perang sarung berujung maut. Remaja berinisial FH (25) tewas dengan luka bacok sepanjang 15 sentimeter dan lebar 5 sentimeter.

Polres Tangerang Selatan (Tangsel) pun langsung turun tangan. Dua remaja berinisial MA (17) dan SG (18) ditangkap dan satu lagi masih diburu. Ketiganya diduga yang membunuh FH. “Satu orang lagi masih DPO (daftar pencarian orang)," kata Kapolres Tangsel AKBP Iman Imanuddin, belum lama ini.

Di media sosial Instagram, tercatat perang sarung sangat mudah ditemukan hingga berita ini diturunkan tercatat 4.319 postingan dengan hastag #perangsarung.

Video populer soal perang sarung diupload @dankmeme.indo's. Video itu telah ditonton 19.633 pengguna Instagram. Dalam video memperlihatkan bagaimana seorang anak berwajah tambun diduga melukai temannya karena dijadikan bahan serangan oleh temannya menggunakan sarung.

Sempat mendiamkan aksi temannya, dia yang kesal lantas mulai marah, mengambil batu hingga melemparkan ke salah satu temannya hingga berdarah dan terjungkal hingga tak sadarkan diri.
Perang Sarung, Permainan Candaan Anak-anak saat Ramadhan yang Kini Mematikan

Polisi mengamankan sarung yang di dalamnya diisi gir motor dan batu untuk perang sarung. Foto: Antara

Di Instagram juga diceritakan strategi dalam perang sarung dan cara menggunakan sarung sebagai senjata. Seperti model pecut yang menggunakan ujung sarung yang lancip dan ujung sarung yang diikat.

Postingan semacam ini kemudian diduga menjadi bahan percontohan para remaja melakukan perang sarung lalu menyerang kelompok lain.
Baca juga: 18 Anak di Bawah Umur Diamankan saat Perang Sarung di Depan Hari-Hari Ciledug

Tidak hanya di Jakarta dan sekitarnya, perang sarung juga mewabah di daerah lain. Di Cianjur, dua kelompok remaja bentrok di perbatasan Cianjur dan Kabupaten Bandung Barat. Peristiwa ini lantas mengganggu ketertiban dan arus lalu lintas karena dilakukan di jalan nasional.

Kondisi ini membuat sejumlah kendaraan mengantre. Mereka tak bisa melanjutkan perjalanannya karena akses jalan yang tertutup.

Hal sama juga terjadi saat perang sarung di beberapa titik di Sukabumi dan Bogor. Perang sarung yang terjadi di sana menyebabkan antrean mengular di sejumlah ruas jalan. Kendaraan tak bisa melintas.

Sekjen Komnas Perlindungan Anak (PA) Dhanang Sasongko menilai makna perang sarung saat ini telah berubah. Tradisi yang dahulunya untuk becanda kini menjadi melukai bahkan membunuh.

Hal ini tak bisa didiamkan. Langkah serius antara orang tua, warga, dan kepolisan perlu dilakukan mengatasi masalah ini. Apalagi setiap tahunnya korban akibat perang sarung berjatuhan baik yang luka maupun meninggal. "Uniknya, kalo saya amati terjadi di wilayah itu-itu saja," ujarnya, Minggu (25/4/2021).

Dibandingkan tahun sebelumnya, dia melihat perang sarung yang terjadi kali ini lebih banyak dan nyaris merata di sejumlah wilayah. "Seperti menjadi tradisi saat Ramadhan dan pecah di waktu tertentu," ucapnya.
Baca juga: Berisi Batu, 5 Remaja di Cileungsi Ditangkap Polisi saat Perang Sarung

Umumnya perang sarung terjadi pada dua waktu tertentu, yakni usai Tarawih dan waktu Imsyak atau Subuh.

Demi memutus perang sarung, Dhanang menyarankan satgas kecil wajib dibentuk hingga tingkat RT dengan demikian pengawasan bisa dilakukan. Salah satunya dengan patroli wilayah. "Jadi remaja pria yang tampak berkumpul bisa dibubarkan agar tak menyebabkan terjadinya perang sarung," katanya.
(jon)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3502 seconds (11.210#12.26)