alexametrics

Kisah Pilu WNA Pencari Suaka di Kebon Sirih

loading...
Kisah Pilu WNA Pencari Suaka di Kebon Sirih
WNA pencari suaka memenuhi Jalan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, tepatnya di trotoar depan Masjid Ar Rayyan Kementerian BUMN. Foto: SINDONEWS/Komaruddin Bagja Arjawinangun
A+ A-
JAKARTA - Jalan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, tepatnya di trotoar depan Masjid Ar Rayyan Kementerian BUMN, masih dipenuhi oleh warga negara asing (WNA) pencari suaka. Baik pria dan wanita, tua dan muda, WNA itu terus bertahan menunggu kejelasan dari pemerintah Indonesia.

Salah satu pencari suaka asal Afganistan Muhammad Ibrahim (34) menceritakan kisah pilunya yang harus lari dari negara asalnya untuk mencari perlindungan. Sekitar lima tahun lalu, Ibrahim bersama istrinya yang tengah mengandung itu pergi dengan pesawat terbang menuju India.

"Saya dari Afganistan dengan istri yang hamil saat itu naik pesawat ke India. Dari India ke Malaysia. Sampai di Malaysia saya ke Medan naik perahu boat," kata Ibrahim kepada SINDONEWS, saat ditemui Kamis (11/7/2019). (Baca juga: Soal Pencari Suaka, Sekda DKI Sebut Masih Dibahas Kemenlu)



Ibrahim dan istrinya mengakhiri perjalanan mencari suaka di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Selama ia dalam pencarian suaka, Ibrahim dan istri selalu dikirim oleh keluarganya di Afganistan. Namun hal tersebut tak berlangsung lama.

Keluarganya pun yang biasa memberikan uang dikabarkan telah meninggal dunia. "Sekarang dia telah meninggal dunia dan saya harus berusaha sekuat tenaga," tandasnya.

Ia menceritakan, saat sang istri akan melahirkan putra pertama mereka di RSUD Cisarua. ketika itu ia diminta membayar Rp8juta untuk biaya persalinan. "Setelah berusaha akhirnya saya mendapatkannya dan istri saya pun bisa melahirkan," tuturnya. (Baca juga: DPRD Minta Satpol PP Tertibkan Pencari Suaka di Trotoar Kebon Sirih)

Namun perjuangan hidup Ibrahim belum berakhir. Berselang dua tahun, putra keduanya lahir dan ia kembali dimintai biaya yang tidak sedikit. Padahal untuk bertahan hidup saja mereka bersusah payah.

Ia mengaku baru 12 hari berada di trotoar Jalan Kebon Sirih. Untuk keperluan Mandi Cuci Kakus (MCK) mereka memanfaatkan fasilitas Masjid Ar Rayyan.

"Saya tidak bekerja, untuk makan sehari-hari ada saja orang baik yang memberikan. Tapi pantang bagi saya untuk meminta-minta," pungkasnya.
(thm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak