alexametrics

Ini Penyebab Suhu Dingin dan Prediksi Puncak Kemarau di Indonesia

loading...
Ini Penyebab Suhu Dingin dan Prediksi Puncak Kemarau di Indonesia
BMKG menyatakan, musim kemarau kini tengah terjadi pada 69% dari 342 daerah ZOM di Indonesia.Foto/SINDOphoto/Ilustrasi.dok
A+ A-
JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, musim kemarau kini tengah terjadi pada 69% dari 342 daerah ZOM di Indonesia. Hal ini seiring dengan penguatan angin Monsun Australia yang mengalirkan massa udara dingin dan kering dari Benua Australia menuju Asia melewati Samudera Indonesia dan wilayah Benua Maritim Indonesia.

Wilayah-wilayah yang sebagian besarnya tengah mengalami musim kemarau di antaranya, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa Timur, sebagian besar Jawa Tengah, sebagian besar Jawa Barat, pesisir utara Banten, DKI, Sumatera Selatan bagian timur, Jambi bagian timur, sebagian besar Riau, sebagian besar Sumatera Utara, pesisir timur Aceh, Kalimantan Tengah bagian selatan, Kalimantan Timur bagian timur, Kalimantan Selatan bagian utara, Sulawesi Barat bagian selatan, Pesisir selatan Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara bagian utara, Maluku bagian barat, Papua Barat bagian timur, dan Papua bagian utara dan selatan.

"Menguatnya aliran angin Monsun Australia biasanya berkaitan dengan perkembangan sistem tekanan tinggi atmosfer di atas Benua Australia yang mendorong masa udara memiliki aliran yang lebih kuat dari biasanya," ungkap Kabag Humas BMKG, Taufan Maulana, Sabtu (1/8/2020).

Taufan menuturkan, saat ini kecepatan angin terutama di bagian selatan Jawa dan Bali dilaporkan menunjukkan kecepatan angin yang lebih kuat (Lombok, Denpasar, Solo, Jogja, Bandung: 10-20 knot; Jakarta, Semarang, Surabaya: 5-10 knot, dengan 1 knot-0.5 m/s). (Baca: Antisipasi Penumpukan Penumpang, DKI Siapkan Bus Transjakarta Sapu Jagat)



"Kota-kota di bagian selatan Jawa dan Bali juga menunjukkan suhu udara yang relatif lebih dingin sedikit dibanding bagian utara, misalnya pada siang hari Lombok, Denpasar suhu 26- 28°C, saat yang sama di Semarang, Jakarta, Surabaya 30-31°C. Sedangkankan pada malam hingga pagi hari, suhu minimum tercatat pada 29 Juli terendah 10,4°C di Ruteng, NTT, di Malang dan Bandung 17°C, di Padang Panjang 18°C," urainya.

Musim kemarau telah berdampak menimbulkan potensi kekeringan secara meteorologis pada 31% ZOM berdasarkan indikator Hari Tanpa Hujan berturut-turut (HTH) atau deret hari kering yang bervariasi dalam hitungan hari hingga bulan. Deret hari kering terpanjang lebih dari dari 2 bulan dialami beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur, yaitu Belu, Kota Kupang, dan Timor Tengah Selatan dan di Dompu, Nusa Tenggara Barat.



Daerah daerah ini sudah mendapatkan edaran Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis yang dikeluarkan oleh Deputi Klimatologi BMKG tertanggal 24 Juli 2020 dengan Status awas (kode merah) Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis.
Taufan menjelaskan, 58 Kabupaten/Kota juga tersebut berstatus siaga (kode oranye) yang tersebar di Provinsi NTT, NTB, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY dan Sulawesi Selatan.

"Bulan Agustus merupakan bulan yang diprediksikan oleh BMKG sebagai puncak musim kemarau bagi sebagian besar wilayah yang telah mengalami kemarau," tuturnya. Sebanyak 65% ZOM akan mengalami puncak musim kemarau ini yaitu sebagian besar wilayah NTT, NTB, Bali, sebagian besar Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, dan sebagian Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi Selatan serta Papua bagian selatan. (Baca: Taman Bunga Bukit Kapur Kian Eksotik di Tengah Pandemi COVID-19)
halaman ke-1 dari 2
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak