alexametrics

'Musim Arab' dan Fenomena Kawin Kontrak di Puncak

loading...
Musim Arab dan Fenomena Kawin Kontrak di Puncak
Setiap bulan Mei, warga Puncak menyebutnya sebagai Musim Arab karena saat itu kawasan wisata berhawa dingin ini akan diserbu pelancong asal Timur Tengah. (Ilustrasi)
A+ A-
MEMASUKI awal bulan Mei, kawasan Puncak, Cisarua, Bogor dipastikan bakal diserbu ratusan wisatawan mancanegara (wisman) asal Timur Tengah (Timteng). Dibulan itu pula, warga setempat yang menyebutnya sebagai 'Musim Arab' meraup keuntungan dengan kedatangan para pelancong tersebut.

Dampak positif 'musim arab' itu selain seluruh vila yang dijaga warga setempat full karena dibooking selama empat bulan kedepan. Juga, tak sedikit warung-warung disekitar kawasan Puncak, tepatnya Kampung Warung Kaleng, Desa Tugu Utara, Cisarua, Kabupaten Bogor mendapatkan keuntungan hingga berlipat-lipat.

Selain warung kelontong, jasa transportasi ojek/taksi gelap, pemandu wisata, jasa menyalurkan syahwat atau birahi pun ditawarkan warga setempat terhadap para wisatawan asal Timteng itu. Tak hanya syahwat, dampak negatif lainnya dengan kedatangan mereka, tingkat kriminalitas jadi ancaman, baik peredaran narkoba hingga pesta seks.

Hal itu tidak dipungkiri, dan selalu terjadi setiap tahun selama 'Musim Arab' berlangsung. Maka dari itu, pantas saja, sejumlah masyararakat dan ulama setempat menentang sikap pemerintah yang terkesan melakukan pembiaran terhadap wisman menyerbu kawasan Puncak, tanpa melakukan pengawasan ketat.

Terlebih, sebagian para wisman Timteng selain liburan juga banyak yang ingin melangsungkan tradisi 'kawin kontrak' di kawasan berhawa sejuk itu.

"Turis itu datang secara bergerombol, dalam sehari bisa menghabiskan duit Rp3-5 juta. Memang ada juga yang melakukan kawin kontrak dengan warga pribumi, tapi perempuannya berasal dari Cianjur dan Sukabumi, bukan warga Puncak atau Bogor," ungkap Suheli (45) penjaga vila di Desa Tugu Utara, Kamis (30/4/2015).

Lebih lanjut ia menuturkan, turis asa Timteng itu mayoritas menetap di daerah Warung Kaleng, Desa Tugu Utara, karena itu diwilayah ini ada perkampungan yang dikenal kampung arab sejak lama.

"Selain penginapan penuh dibooking, pengusaha rental mobil juga kebagian rejeki. Karena selama berlibur, mereka menyewa mobil untuk jalan-jalan," tambahnya.

Maka dari itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Cisarua, KH Rahmatulloh, mendesak Pemkab Bogor bersikap tegas terhadap para oknum wisman asal Timteng yang menyalahgunakan kunjungannya ke Puncak hanya untuk berbuat maksiat.

Terlebih lanjut dia, umat Islam di Indonesia sangat mengharamkan tradisi kawin kontrak itu. Bahkan, pihaknya sudah memberikan imbauan kepada warga agar tidak terjebak dalam fenomena negatif tersebut.

"Nikah wisata atau biasa dikenal dengan nikah mut'ah bagi kita hukumnya haram, maka dari itu ulama Cisarua dengan tegas melarang adanya kawin kontrak," ungkapnya.

Ia menambahkan, praktek pernikahan semacam itu biasanya dilakukan secara terselubung disebuah vila. Dengan dalih karena keuntungan yang menggiurkan sehingga pribumi banyak yang mendukung aktifitas nikah mut'ah.

Apalagi, faktor ekonomi bukan alasan yang mendasar, ditengah upaya pemerintah dalam meningkatkan roda perekenomian masyarakat.
halaman ke-1 dari 2
preload video

BERITA TERKAIT

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak