alexa snippet

Keluarga Korban JIS Tepis Tudingan Kuasa Hukum Terdakwa

Keluarga Korban JIS Tepis Tudingan Kuasa Hukum Terdakwa
Ibu korban kasus pelecehan di JIS membeberkan catatan kekeliruan atas pernyataan yang dilontarkan oleh kuasa hukum terdakwa kasus JIS itu. (Ilustrasi/Sindonews)
A+ A-
JAKARTA - Ibu korban kasus pelecehan di Jakarta International School (JIS) membeberkan catatan kekeliruan atas pernyataan yang dilontarkan oleh kuasa hukum terdakwa kasus JIS itu.

Ibu korban, DW menyebutkan, terdapat sejumlah catatan dari pernyataan-pernyataan kuasa hukum terdakwa JIS. Pertama, adanya statment tentang pelecehan yang dialami oleh anaknya, yakni CA itu suatu kebohongan.

"Pada saat di BAP tanggal 5 Mei. Anak saya belum bercerita kalau dia pun menjadi korban. Sebab, anak saya itu diancam mati-matian di sekolah itu untuk tidak menceritakan (pelecehan yang dialaminya). Dia saat itu sebagai saksi," ujarnya di Gedung Perintis Kemerdekaan, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (6/4/2015).

Kedua, terangnya, tidak kenalnya CA dengan pelaku saat di pengadilan. Menurutnya, saat persidangan dimulai dan anaknya itu dihadirkan ke PN Jaksel.

Kedua tersangka itu tidak berada di dalam persidangan, melainkan di luar ruang persidangan. "Bagaimana anak saya dapat mengenal mereka (Dua guru JIS), sedang mereka tidak ada di ruang persidangan," katanya.
Ketiga, kontroversi hasil visum di RS Singapura. Hasil itu bukanlah catatan visum, sebab, dokter yang melakukan pemeriksaan itu bukanlah dokter forensik, melainkan dokter pencernaan.

"Saya sudah konfirmasi ke RS Singapura. Di situ dikatakan, dokter yang periksa anak saya bukan dokter forensik sehingga tidak dapat dipastikan itu (pelecehan seksual) terjadi atau tidak," terangnya.

"Itupun namanya bukan visum. Saat pemeriksaan luar anus dan dalam pun menggunakan alat disvalvesikul, bukan pake anuskopi. Jadi bagaimana mungkin dia bilang itu rekayasa dan tidak benar terjadi," tegasnya sambil menunjukan berkas-berkas dari RS Singapura.

Bahkan, tutur wanita asal Singapura itu, saksi ahli dari psikolog yang didatangkan oleh kuasa hukum terdakwa untuk memberikan keterangannya itu, sejatinya tidaklah pernah bertemu ataupun berbicara dengan anaknya maupun dengan orang tuanya.

"Cuma satu psikolog yang datang ke rumah saya. Itu pun dia mengatakan, anak saya tidak dapat dipastikan dia mengalami tindak pelecehan ataukah tidak. Yang pasti, dia katakan, anak saya memiliki indikasi adanya tindakan tersebut. Kuasa hukumnya (terdakwa) justru bilang tidak ada tindakan itu," paparnya.

Kelima, kata DW, pengubahan kamar mandi yang dilakukan oleh pihak JIS. Pengubahan yang dilakukan oleh JIS itu sejatinya untuk menghilangkan saksi dan bukti akan terjadinya tindak pelecehan disekolah tersebut.

"Mereka ubah, kamar mandi laki-laki yang tadinya ada menjadi hanya kamar mandi anak saja sekarang, itupun tanpa seizin polisi. Sebelumnya toh wartawan tidak diperbolehkan masuk JIS agar fakta itu tidak dapat terungkap," katanya.

Sejalan dengan ibu korban, kuasa hukum korban, OC Kaligis mengatakan, sejatinya, ketiga korban kasus pelecehan itu tidak mungkin melakukan teori konspirasi untuk menyatakan secara bersama-sama kalau kelima petugas kebersihan itu sebagai pelaku tindak pelecehan.

"Maka itu, dugaan adanya pelaku tindak pelecehan lainnya itu sejatinya perlu untuk di ungkap demi masa depan anak-anak sekolah sendiri," tutupnya.
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top