Kisah Si Pitung, Jawara Betawi Pembela Rakyat Miskin yang Dibenci Penjajah Belanda

Senin, 31 Oktober 2022 - 19:13 WIB
loading...
Kisah Si Pitung, Jawara Betawi Pembela Rakyat Miskin yang Dibenci Penjajah Belanda
Untuk mengenang sosok Si Pitung, didirikanlah Museum Si Pitung yang berada di Jalan Kampung Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Di dalamnya terdapat bangunan khas Betawi yaitu rumah panggung. Foto: Dok Okezone
A A A
JAKARTA - Siapa jawara Betawi yang tersohor? Pasti jawabannya Si Pitung. Sosok Pitung sangat melegenda bagi masyarakat Betawi. Pria kelahiran Pengumben, Rawa Belong, Jakarta tahun 1866 itu memiliki andil melawan penjajah Belanda di tanah Batavia.

Selain melawan Belanda, Pitung juga sering membantu orang-orang yang tertindas dan membutuhkan bantuan. Menurut sejarawan Belanda Margreet van Till dalam “In Search of Si Pitung: History of an Indonesian Legend”, Si Pitung bukan hanya legenda melainkan benar-benar ada hidup pada paruh kedua abad ke-19.
Baca juga: Bang Pitung Resmi Menggantikan Nama Jalan Kebayoran Lama di Jaksel

Menyandang nama asli Ahmad Nitikusumah, Pitung merupakan anak dari pasangan Piung dan Pinah. Sejak kecil, Pitung menuntut ilmu di pesantren pimpinan Hadji Naipin dan juga belajar bela diri silat.

Pitung kemudian terkenal di kalangan rakyat Betawi karena suka membantu orang tertindas. Bahkan, Pitung tak segan merampok di mana hasil rampokannya dibagikan kepada rakyat miskin.

Ketika merampok pada 1892-1893, aksi Pitung terekam dalam surat kabar Hindia Olanda. Saat itu, Si Pitung terkenal sebagai salah satu buronan kelas kakap polisi kolonial. Margreet, editor surat kabar Hindia Olanda membongkar nama asli Pitung ketika tertangkap polisi.

Nama asli Pitung adalah Salihoen. Sedangkan, nama Pitung berasal dari akronim bahasa Jawa yaitu pituan pitulung (kelompok tujuh).

Perampokan yang dilakukannya karena Pitung merasa kesal dan sakit hati ketika uang hasil berjualan kambing milik ayahnya dirampok oleh Belanda dan Tionghoa. Pitung geram kemudian melawan dan melakukan aksi perampokan.

Perampokan itu bukan yang pertama dilakukan Pitung. Dia sudah sangat sering merampok rumah tuan tanah dan membagikan hasilnya kepada warga miskin. Si Pitung dianggap pembangkang oleh Belanda sehingga membuat Belanda ingin menghabisinya. Akhirnya Si Pitung tewas karena tertembak peluru emas milik kepala kepolisian karesidenan Batavia AMV Hinne.
Baca juga: Sumur Tiga Rasa di Masjid Si Pitung, Begini Kisahnya

Untuk mengenang sosok Si Pitung, didirikanlah Museum Si Pitung. Bangunan museum ini dulunya rumah saudagar dan tuan tanah bernama Haji Safiuddin yang pernah menjadi sasaran rampok Si Pitung.

Museum Si Pitung memiliki bangunan khas Betawi yaitu rumah panggung. Bangunan ini berlokasi di Jalan Kampung Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.

Museum ini resmi ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Perda DKI Jakarta Nomor 9 Tahun 1999. Kini, Museum Si Pitung menjadi destinasi wisata yang mengandung banyak sejarah sekaligus sarana pembelajaran terkait kesenian dan adat istiadat Betawi.
(jon)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1430 seconds (10.177#12.26)