alexametrics

Tragedi Bintaro

loading...
Tragedi Bintaro
Tragedi Bintaro I pada tahun 1987. (Foto: Istimewa)
A+ A-
Sindonews.com - Bau anyir darah memenuhi udara di perlintasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan, Senin (9/12/2013) pagi. Api juga nampak berkobar besar dengan asap hitam pekat mengangkasa.

Saat itu, nampak sebuah truk bermuatan 24.000 liter bahan bakar minyak (BBM) tergolek dan terbakar, serta sebuah kereta api dengan wujud tak karuan.

Ya, sebuah kecelakaan kereta api besar baru saja terjadi kembali. Delapan jiwa melayang sia-sia dalam peristiwa tersebut, sementara puluhan penumpang lainnya mengalami luka-luka, berat maupun ringan. Banyak masyarakat-pun kemudian menyebutnya dengan sebutan "Tragedi Bintaro II".

Insiden memilukan itu tentu mengingatkan kita akan insiden Tragedi Bintaro I, 26 tahun silam. Tepat di hari yang sama, dua buah kereta terlibat ''adu banteng'' di lokasi yang sama dengan ''Tragedi Bintaro II'', hanya terpaut 200 meter.

Kecelakaan dahsyat itu menewaskan 153 jiwa, dan 300 orang luka-luka. Sontak semua 'mata pena' baik lokal, nasional hingga mancanegara tertuju pada peristiwa itu. Insiden itupun menjadi tamparan hebat bagi perkereta-apian di Indonesia.

Kecelakaan Bintaro I melibatkan dua buah kereta api, yakni KA255 jurusan Rangkasbitung – Jakarta yang mengangkut 700 penumpang; dan KA 220 Patas jurusan Tanah Abang - Merak yang mengangkut 500 penumpang. Peristiwa itu juga terjadi pada saat jam sibuk orang berangkat kerja.

Insiden Bintaro I merupakan peristiwa terburuk kedua setelah sebelumnya peristiwa tabrakan kereta api besar juga terjadi 20 September 1968 yang menewaskan 116 orang. Tabrakan itu terjadi antara Kereta Api Bumel dengan Kereta Api Cepat, di Desa Ratujaya, Depok.

Perjalanan menuju maut

Berdasarkan data dari berbagai sumber yang dihimpun SINDOnews, kecelakaan ini berawal saat KA 225 Jurusan Rangkasbitung – Jakarta yang dipimpin oleh masinis Slamet Suradio; asistennya Soleh; dan seorang kondektur, Adung Syafei, berhenti di jalur 3 Stasiun Sudimara.

KA 225 tersebut bersilang dengan KA 220 Patas jurusan Tanah Abang – Merak yang dimasinisi Amung Sunary; dengan asistennya, Mujiono.

Saat bersilang dan tanpa berkomunikasi dengan Stasiun Sudimara, petugas Stasiun Serpong justru memberikan sinyal aman bagi kereta api yang dimasinisi Slamet untuk jalan. Padahal, tidak ada pernyataan aman dari Stasiun Kebayoran. Hal ini dilakukan karena penuhnya jalur di Stasiun Sudimara.

Slamet pun melaju keretanya dari Serpong dan tiba di Stasiun Sudimara pada pukul 06.45 Wib. Namun, ternyata memang penuh dengan KA. Maka, Kepala Stasiun Sudimara pun lantas melansir perintah kepada Slamet masuk jalur 1 (jalur lurus/lacu), dengan posisi di Stasiun Sudimara.

Saat akan dilansir, Slamet ternyata tidak dapat melihat semboyan yang diberikan, karena penuhnya lokomotif pada saat itu. Kemudian Slamet bertanya kepada penumpang yang berada di lokomotif "berangkat ?", penumpang menjawab "berangkat !!". Sang masinis pun membunyikan Semboyan 35 dan berjalan.

Juru lansir yang kaget kemudian mengejar kereta itu dan naik di gerbong paling belakang. Para petugas stasiun kaget, beberapa ada yang mengejar kereta itu menggunakan sepeda motor.

PPKA Sudimara, Djamhari, mencoba memberhentikan kereta dengan menggerak-gerakkan sinyal, namun tidak berhasil. Dia pun langsung mengejar kereta itu dengan mengibarkan bendera merah. Namun sia-sia.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak