Antisipsi Varian Baru Covid-19, Epidemiolog Sarankan Pemerintah Konsisten Terapkan WFH

loading...
Antisipsi Varian Baru Covid-19, Epidemiolog Sarankan Pemerintah Konsisten Terapkan WFH
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman memberikan saran pada pemerintah Indonesia dan Pemprov DKI Jakarta dalam menyikapi pandemi Covid-19 ini, khususnya terkait adanya varian covid Alpha, Beta, dan Delta.

Menurutnya, orang yang sudah masuk ke RS karena terpapar Covid bisa dikatakan pasien tersebut sudah mencapai hulu atau terlambat ditangani. Artinya, virus tersebut telah terlambat ditangani dan diantisipasi penyebarannya hingga akhirnya bisa masuk ke tubuh orang lain. Baca juga: Luhut Sebut Munculnya COVID-19 Varian Baru di Indonesia Kesalahan Bersama

"Makanya, yang harus dilakukan itu di masyarakat ini, dilakukan program kunjungan rumah untuk meningkatkan deteksi kasus secara aktif dan dini, nah ini yang harus dilakukan supaya orang tak terlambat dirujuk dan tak terlambat ditangani serta cepat kalau ketemu (yang bergejala) yah cepat diisolasi karantina sehingga efektif memutus mata rantai penularan," ujarnya saat dihubungi, Selasa (15/6/2021).

Dia menambahkan, guna mengantisipasi penyebaran Covid-19, apalagi dengan adanya varian covid Alpha, Beta, dan Delta itu pemerintah harus melakukan pembatasan secara ketat. Meski pemerintah belum bisa melakukan PSBB se-Jawa-Bali misalnya, pembatasan itu tetap harus dilakukan secara bertahap, khususnya di kawasan yang terdapat munculnya varian tersebut.



"Itu untuk meminimalisir dan meredam kecepatan penularan, misalmya dengan WFH 50 persen itu beneran (dilakukan), bukan hanya wacana karena kan di kita ini masalah klasiknya komitmen dan konsistensi itu yang selalu, law enforcemen, sudah berpuluh tahun lah itu yah," katanya. Baca juga: Antisipasi Varian Baru Covid-19, Lantamal III Gelar Tes Swab Antigen
(mhd)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top