Sulap Kawasan Hijau, Warga Pegangsaan Dua Ciptakan Urban Farming di Permukiman

Kamis, 25 Februari 2021 - 21:18 WIB
loading...
Sulap Kawasan Hijau, Warga Pegangsaan Dua Ciptakan Urban Farming di Permukiman
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Ada pemandangan berbeda di wilayah RW 02, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara . Di setiap sisi jalan permukiman terdapat tanaman hias , obat hingga tanaman sayuran (Urban Farming).

Warga sekitar menciptakan lingkungan tersebut menjadi kawasan yang cukup asri dengan membuat sebutan gang hijau sejak dua tahun lalu. Baca juga: RIB Lawan COVID-19 dan Warga Rusun Pengadegan Kembangkan Urban Farming

Wakil Ketua RW 02 sekaligus pengelola Gang Hijau, Warya mengatakan, adanya Gang Hijau ini berawal dari inisiatif warga yang ingin mengubah pemukiman warga yang dari biasa menjadi asri karena tanaman.

Seperti yang terlihat di RT 02 RW 02 Pegangsaan Dua, dan lebih diketahui warga dengan nama Gang Mede. Warga sadar apabila
lingkungan dibuat senyaman mungkin, anak-anak akan nyaman pula bermain di dalamnya.

"Kampung Hijau di RW 02 ini dulu berawal dari anak-anak yang suka bermain, yang kita anggap kurang nyaman dan kurang aman," kata Warya saat ditemui di lokasi, Kamis (25/2/2021).

"Maka punya ide untuk membuat kampung atau gang warna-warni. Yang paling diutamakan di Gang Mede, awalnya dari situ tahun 2018," Lanjutnya.

Berawal inisiatif inilah warga bersama sama membuat ide dan saran kepada perusahaan di sekitar Pegangsaan Dua dan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Utara.

"Hal itu untuk bisa membantu fasilitas dan sarana untuk membangun gang tersebut supaya lebih ringan untuk mengawalinya," kata Warya. Baca juga: Belajar Urban Farming dan Magang Seru di Kebun Edukasi Sarah Prabumulih

Dengan adanya bantuan tanaman, pot, dan perlengkapan lainnya dari pihak-pihak terkait, wargapun mulai berbenah. Gang Mede yang berada di dalam Jalan Haji Oyar dipilih lantaran lokasinya yang sering dijadikan tempat bermain anak-anak.

Di tempat tersebut warga menempatkan ratusan pot tanaman obat keluarga (Toga) seperti lidah buaya hingga tanaman suji. Warga percaya dengan obat alami tidak memerlukan pengeluaran uang.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1550 seconds (10.101#12.26)