Kisah Pilu Anak Jakarta di Era Sekolah Daring

Tak Punya Smartphone, Bocah SMP Ini Terancam Putus Sekolah

loading...
Tak Punya Smartphone, Bocah SMP Ini Terancam Putus Sekolah
Aditya Akbar (13), warga RT10/RW 07 Nomor 41, Jalan Cempaka Bawah, Kota Bambu Utara, Palmerah, Jakarta Barat. Foto: SINDOnews/Yan Yusuf
JAKARTA - Sistembelajar daring masih menyisahkan persoalan serius bagi anak didik. Bahkan di Kota Metropolitan DKI Jakarta, masih ada anak didik yang tidak bisa mengikuti sekolah daring karena tidak punya ponsel.

Sudah ditinggal ibunya entah kemana, Aditya Akbar (13), kini harus was-was dengan nasib pendidikannya. Nasibnya melanjutkan pendidikan kini di ujung tanduk, lantaran hampir setengah tahun tidak mampu mengikuti sistem belajar online karena tak punya smartphone.

Bahkan, pelajar kelas VII SMP Negeri 286 itu tidak bisa mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS) karena tidak mendapatkan soal lantaran tak memiliki smartphone.

Saat ditemui di rumahnya, warga RT10/RW 07 Nomor 41, Jalan Cempaka Bawah, Kota Bambu Utara, Palmerah ini, kondisinya jelas sangat pas pasan. Ia hanya mengandalkan ayahnya yang kini bekerja serabutan. Sebab sejak pandemi melanda, si ayah terpaksa di rumahkan.



“Kalau rumah ini memang warisan dari nenek,” kata Adit saat ditemui di rumah petakannya, Senin (26/10/2020). (Baca juga: Peringatan Keras buat Kemendikbud, Ibu Sampai Tega Bunuh Anak saat PJJ)

Untuk menutupi kebutuhan makan sehari-hari, sang ayah hanya mengandalkan panggilan reparasi motor atau barang elektronik yang rusak. Tapi penghasilan itu tidak menentu. Keduanya pun kadang harus menahan lapar seharian.

Dengan kondisi itu, Adit jelas tak mampu membeli smartphone. Sistem belajar daring terpaksa harus dilepas. "Mulai terkena imbas belajar daring sudah sejak kelas VI SD. Dulu ada handphone tapi sekarang tidak ada karena rusak," katanya.



halaman ke-1 dari 3
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top