alexametrics

Ratusan RW Terendam Banjir, Jakarta Butuh Solusi Ekstrem

loading...
Ratusan RW Terendam Banjir, Jakarta Butuh Solusi Ekstrem
Banjir yang terjadi kearin nyaris membuat operasional commjter line lumpuh karena sejumlah stasiun terendam banjir. Foto/Koran SINDO
A+ A-
JAKARTA - Eva Safitri (24) tampak lemas. Alis matanya terlihat menurun, kelopaknya juga menyipit. Eva tak kuasa menahan capai dan lelah pikiran karena belasan tahun tinggal di daerah Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, baru kali ini rumahnya diterjang banjir.

Begitu lelahnya, Eva tak lagi bersemangat mengamankan sejumlah barang di rumahnya. Maklum sejak Minggu (23/2/2020), rumah Eva di Jalan Malaka 1 Rorotan sudah kebanjiran. Dia mengaku banjir kali ini merupakan yang terburuk selama belasan tahun tinggal di kawasan Rorotan. Sebelumnya, meski hujan turun deras, air tak pernah masuk rumahnya, termasuk saat banjir besar Jakarta pada Tahun Baru 2020.

Banjir Minggu pagi membuat Eva kaget dan membangunkan ibu serta adiknya cepat-cepat. Ketinggian banjir yang mencapai sebetis orang dewasa membuat semua orang di rumahnya bahu-membahu mengamankan perabot.



Senin (24/2/2020) sore, setelah air surut, Eva cepat-cepat membersihkan lumpur di rumahnya. Begitu banyaknya lumpur membuat pembersihan baru selesai sekitar pukul 10 malam. Namun baru satu jam bersantai, dia kembali waswas. Benar, saat jam 3 dini hari bangun, dia melihat depan rumahnya sudah tergenang. “Dari situ mulai saya tak tenang,” kata Eva.

Selasa pagi sekitar pukul 8 banjir telah masuk rumah lagi. Kali ini lebih tinggi, yakni mencapai sedengkul. Hingga petang kemarin banjir di kawasan Rorotan belum surut. Eva pun hanya pasrah sambil berharap tenaganya kuat saat bersih-bersih rumah lagi nanti. “Saya sudah cuti dua hari,” ucap Eva kepada KORAN SINDO di rumahnya kemarin.

Tak hanya Eva, puluhan ribu warga di 294 RW di Jakarta kemarin juga tidak bisa beraktivitas karena rumahnya kebanjiran. Sebagian wilayah memang dikenal kawasan langganan banjir. Namun hujan deras Senin malam hingga pagi kemarin membuat beberapa daerah tergenang. Bahkan banjir subuh kemarin juga menerjang kawasan Istana Kepresidenan.

Selain ribuan rumah, banjir juga memutus puluhan akses transportasi massal di Jakarta dan sekitarnya. Pada pagi hari, Stasiun Sudirman dan jalur 6 di Stasiun Tanah Abang tak bisa dioperasikan lantaran rel tergenang banjir. Genangan di dua stasiun besar pusat kota ini tergolong jarang terjadi. Banjir kemarin juga membuat banyak halte tergenang sehingga dinonaktifkan. Beberapa pintu tol juga ditutup karena terendam hingga mencapai sekitar 100 cm.

Sejak beroperasi pada 1942, baru kali ini RSCM juga terendam banjir. Genangan masuk ruang inap dan ruang radiologi pada Minggu (23/2) dini hari dan Selasa (25/2) dini hari. Dari keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sejumlah alat medis terendam seperti stationary xray ceiling, fluoroscopy, mammography, stationary xray floor, mobile xray, 2 unit CT scan, 1 unit ultra-sound 'accuson', dan 1 unit magnetic resonance imaging (MRI).

Kian memburuknya dampak banjir di Jakarta ini membuat banyak kalangan prihatin. Mereka mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Anies Baswedan membuat langkah taktis dan ekstrem. Upaya keras ini sangat mendesak dibutuhkan karena banjir kemarin lebih banyak diakibatkan ketidakmampuan Jakarta dalam mengendalikan besarnya air sebagai efek dari tingginya curah hujan lokal.

Ancaman banjir sebenarnya telah disampaikan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) beberapa hari sebelumnya kepada Pemprov DKI. Namun upaya Jakarta dengan langkah monoton seperti penyiapan pompa, normalisasi saluran air, dan penghijauan tak membuahkan hasil berarti.

Pakar hidrologi Universitas Indonesia Dwita Sutjiningsih menilai sudah saatnya Pemprov DKI menyiapkan sistem drainase yang dirancang untuk mengendalikan air saat hujan ekstrem. Saat hujan dengan intensitas tinggi, biasanya kolam, embung atau danau tak mampu lagi menampung air. “Karena umumnya kolam-kolam itu sudah penuh saat hujan intensitas sedang,” ujarnya.

Dorongan agar Pemprov DKI segera mencari solusi agar tak terus-terusan menjadi langganan banjir juga disampaikan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjanan. Untuk itu Polda Metro berencana untuk berkoordinasi dengan Pemrov DKI guna membahas perihal banjir ini. Dari pengamatan di lapangan kemarin, banjir kali ini terjadi di ratusan titik dengan kategori wajar hingga tak wajar. Kategori tak wajar atau dalam ketinggian parah antara lain terjadi di wilayah Jakarta Barat dan Kota Tangerang.

"Kita akan upayakan mendorong ataupun mencari solusilah, mencari jalan keluar supaya tidak terus-menerus kita kebanjiran," kata Kapolda saat mengecek banjir di Pondok Karya, Jakarta Selatan, kemarin.

Seusai banjir besar 1 Januari lalu, DPRD DKI juga mengegolkan pembentukan panitia khusus. Melalui pansus ini DPRD mengharapkan nantinya lahir solusi yang signifikan untuk mengantisipasi banjir.

Gubernur DKI Anies Baswedan menyatakan seluruh pompa penyedot banjir telah beroperasi dengan baik. Dengan dasar ini dia yakin genangan yang terjadi di sejumlah wilayah akan bisa segera surut. "Sekarang kita konsentrasi pada penanggulangan bencana di masyarakat. Jadi konsentrasi kita ke sana,” ujar Anies.

BMKG memperingatkan bahwa hujan deras masih akan terjadi dalam waktu satu hingga dua pekan mendatang. Tak hanya di Jakarta, peringatan terjadinya puncak musim hujan ini juga disampaikan kepada pemda-pemda lain di Indonesia. Hujan lebat masih akan terjadi baik pada siang, malam maupun dini hari.

Mengantisipasi ancaman ini, Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Juainj Yusuf mengatakan pihaknya terus melakukan pengerukan dan normalisasi baik saluran mikro, makro ataupun kali. Termasuk waduk-waduk yang ada. Sebanyak 7.889 personel dikerahkan dengan dilengkapi alat berat 260 unit dan dump truck 461 unit. Selain pengerukan, 3.000 petugas juga disiapkan untuk mengantisipasi genangan itu. Mereka akan memastikan semua mulut dan tali air di seluruh jalan tidak tersumbat. Sebab salah satu penyebab genangan di lokasi rawan genangan adalah tersumbatnya mulut dan tali air.

Upaya lain adalah mempersiapkan beragam teknologi mutakhir, antara lain pompa mobile sejumlah 133 unit, pompa stasioner sejumlah 457 unit di 165 lokasi ekskavator amfibi, dan combi jetting yang digunakan untuk penyedotan lumpur saluran drainase.

Untuk jangka panjang, penanganan harus berbarengan dengan pemerintah daerah mitra dan pemerintah pusat. Di antaranya melanjutkan normalisasi, pembuatan waduk di hulu seperti yang dibangun di Ciawi dan Cimahi serta penanggulan laut. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI juga akan mempercepat akses informasi dan kedaruratan, di antaranya dengan saluran 112 secara gratis. (Yan Yusuf/Bima Setyadi/Helmi Syarif/M Yamin)
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak