alexametrics

Fokus SINDO Weekly

Berpotensi Menarik Turis, Cagar Budaya Membuat Jakarta seperti Paris

loading...
Berpotensi Menarik Turis, Cagar Budaya Membuat Jakarta seperti Paris
Gedung Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Utara. Foto: dok/SINDOphoto
A+ A-
SEBAGAI kota yang telah dibangun sekitar 500 tahun yang lalu, Jakarta memang punya banyak bangunan alias situs bersejarah. Apalagi, sejak abad 17, kota ini menjelma menjadi pusat bisnis sekaligus ibu kota pemerintahan Pemerintah Kolonial Belanda selama kurang lebih 300 tahun. Hingga kini, Jakarta pun masih didaulat sebagai ibu kota Negara. Jadi, wajar saja jika kota ini masih banyak menyimpan peninggalan-peninggalan bersejarah yang layak untuk dikategorikan sebagai cagar budaya.

Meski sudah banyak bangunan di pelosok kota yang sudah masuk dalam daftar cagar budaya, sejatinya masih banyak situs, benda, hingga bangunan bersejarah yang ada di Ibu Kota, tetapi belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Itu sebabnya hampir setiap tahun Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengusulkan beberapa peninggalan bersejarah yang ada agar bisa masuk dalam daftar cagar budaya.

Bagi Provinsi DKI Jakarta, cagar budaya memiliki arti penting. Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta, cagar budaya mampu mendongkrak nilai jual Jakarta di bidang pariwisata. Pasalnya, cagar budaya di Jakarta mampu memberikan kontribusi 50% terhadap penjualan pariwisata di Ibu Kota.Sementara, menurut Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman (PCBM) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Fitra Arda, kini banyak cagar budaya mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan ekonomi masyarakat yang ada di sekitar cagar budaya. Oleh karena itu, ke depan, pemanfaatan cagar budaya dalam kerangka peningkatan kesejahteraan masyarakat memang perlu ditingkatkan.
Sejauh ini, memang sudah ada beberapa situs bersejarah yang diusulkan untuk menjadi cagar budaya. Salah satu di antaranya datang dari Danang Priatmodjo, Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi DKI Jakarta yang mengusulkan kawasan Taman Ismail Marzuki alias TIM sebagai situs cagar budaya. Tujuannya yakni menjaga kelestarian warisan budaya yang ada di dalamnya. Ada dua bangunan di TIM yang direkomendasikan Danang untuk menjadi cagar budaya, yakni Gedung Planetarium Jakarta dan Graha Bakti. Sayang, keinginan Danang tak bisa terwujud. Sebab, sekitar dua pekan lalu Gedung Graha Bakti sudah dirobohkan terkait proyek revitalisasi kawasan TIM oleh Pemprov DKI Jakarta.



Selain TIM, Wali Kota Jakarta Timur mengusulkan 47 bangunan sebagai kandidat cagar budaya pada 2018 lalu. Bangunan tersebut di antaranya adalah Gedung Perusahaan Film Negara (PFN), rumah tinggal di Jatinegara, Panti Asuhan Van der Steur, Masjid Aasalfiyah, bekas Gedung Kodim, dan gudang amunisi di bawah tanah. Letak bangunan tersebut tersebar di beberapa kecamatan. Di Kecamatan Matraman lima lokasi, Pulogadung enam lokasi, Jatinegara 30 lokasi, Kramatjati tiga lokasi, Pasar Rebo satu lokasi, Cakung satu lokasi, dan Cipayung satu lokasi.

Kawasan Kemayoran

Salah satu dari bangunan yang diusulkan menjadi cagar budaya adalah benteng peninggalan era Kolonial Belanda yang terletak di RW 05, Kelurahan Rawa Terate, Kecamatan Cakung. Bangunan itu terdiri dari sembilan benteng yang memiliki ruangan bawah tanah (bungker).Pada 1950-an hingga 1960-an, benteng ini masih digunakan TNI AD sebagai gudang amunisi. Para sejarawan memperkirakan bungker bawah tanah yang terdapat di benteng ini terhubung dengan lorong rahasia hingga Pelabuhan Tanjung Priok yang saat itu pernah menjadi pelabuhan utama di Hindia-Belanda.
Kawasan bekas Bandara Kemayoran juga banyak diusulkan untuk menjadi kawasan cagar budaya. Sisa-sisa bangunan yang menjadi saksi bisu Kemayoran sebagai salah satu pintu gerbang Indonesia ke dunia luar masih bisa terlihat. Salah satu di antaranya menara ATC (air traffic control) yang dibangun pada 1938. Menara ini dikenal karena muncul di komik serial Tintin yang berjudul “Flight 714 (Penerbangan 714)”. Menara ini juga menjadi menara ATC pertama di Asia. Tak hanya Menara Tintin, di bekas ruang tunggu VIP, Terminal A Bandara Kemayoran, terdapat tiga relief bertema “Manusia Indonesia”, “Flora dan Fauna Indonesia”, dan “Sangkuriang”.

Relief beton modern pertama di Indonesia merupakan sebuah karya seni tinggi yang dibuat oleh para seniman Indonesia, antara lain Sindoesoedarsono Soedjojono, Harijadi Sumodidjojo, dan Surono. Relief ini dibuat pada 1957 atas permintaan langsung dari Presiden Soekarno. Relief tersebut dibuat dengan teknik pahatan dalam.

Relief yang dibuat para seniman Indonesia tersebut bertemakan kekayaan yang dimiliki Indonesia. Sudjojono membuat relief dengan panjang perkiraan 30 meter dan tinggi 3 meter yang menggambarkan manusia Indonesia yang sedang membangun.Harijadi membuat relief dengan panjang perkiraan 10 meter dan tinggi 3 meter yang menggambarkan tentang keanekaragaman flora dan fauna yang ada di Nusantara. Sementara, Surono membuat relief dengan panjang sekira 13 meter dan lebar 3 meter yang menggambarkan kisah Sangkuriang.
Di berbagai belahan dunia, cagar budaya yang ada di ibu kota sebuah negara jadi magnet yang sangat kuat untuk mendatangkan wisatawan mancanegara. Sebut saja Paris, ibu kota Prancis. Kota Mode ini memiliki banyak sekali cagar budaya. Tak heran setiap tahun tak kurang dari 19 juta turis asing datang ke kota ini. Padahal, penduduk kota ini hanya berjumlah 2,1 juta orang.Pariwisata memang jadi salah andalan Prancis untuk mendulang devisa. Negeri ini dikunjungi rata-rata 80 juta turis per tahun. Pendapatan yang diterima Prancis dari turis asing itu mencapai €50 miliar per tahun. Idealnya, Jakarta bisa menjadi Paris-nya Indonesia di sektor pariwisata. (Eko Edhi Caroko)
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak