Insight

Begal Payudara, Ketidaknyamanan Bagi Perempuan

loading...
Begal Payudara, Ketidaknyamanan Bagi Perempuan
Foto/dok
Vinita Susanti
Pengajar di Departemen Kriminologi FISIP UI

Seorang perempuan yang berprofesi sebagai artis mengaku mengalami pelecehan seksual ketika lari pagi di daerah Bintaro, Tangerang Selatan. Bahkan, peristiwa tersebut viral di media sosial. Menurut keterangan artis tersebut, kasusnya terjadi secara tiba-tiba. Saat itu situasi di lokasi kejadian sangat sepi, hanya ada seorang ibu penjual jamu. Pelaku yang menggunakan sepeda motor tiba-tiba mendekati dan meraba payudara korban lalu bergegas kabur.

Kasus serupa juga terjadi di Surabaya pada seorang ibu. Kejadiannya pagi hari. Pelaku yang mengendarai sepeda motor ngebut ke arah korban kemudian melancarkan aksinya. Setelah itu, pelaku kabur. Dua kejadian itu menggambarkan kekerasan yang dialami perempuan dalam bentuk begal payudara. (Baca: Keranjingan Film Porno, Mahasiswa Palembang Jadi Begal Payudara)

Kejahatan ini memberikan situasi tidak nyaman bagi perempuan. Kita akan membahasnya dalam analisis kriminologi feminis, kenapa begal payudara terjadi dan tidak berkurang di masa Covid-19 ini. Bagaimana cara pelaku melakukan aksinya? Apa sebenarnya yang dimaksud dengan begal payudara dan bagaimana pencegahan dan penanggulangannya?



Selama Januari sampai dengan Juli 2020, termasuk di masa Covid-19, sudah terjadi begal payudara di 18 wilayah di Indonesia, seperti Bekasi, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Surabaya, Sumatera Barat, Rangkasbitung, Serang, Pontianak, Wonosobo, Palembang, Jombang, Sulawesi Selatan, Sragen, Probolinggo, Depok, dan Soppeng. Secara statistik, kasus ini tidak banyak jumlahnya jika dibandingkan dengan kasus lainnya. Akan tetapi, dari seriusitas kejahatan, kasus ini sangat serius karena korban dibuat tidak berdaya.

Hasil kategorisasi terhadap 18 kejadian tersebut menunjukkan semua pelakunya adalah laki-laki dan korbannya perempuan. Dari waktu terjadi yang paling sering adalah saat pagi dan malam hari serta hampir semuanya menunjukkan terjadi di tempat sepi. Beragam cerita yang digambarkan korban tentang kejadiannya. Namun, pelaku menggunakan sepeda motor, kemudian mendekati korban dan melakukan aksinya dalam waktu singkat, selanjutnya melarikan diri, semua hampir sama.

Kajian dari Bratingham (1984), mengenai pola kejahatan, masih relevan digunakan sampai saat ini, terutama dalam menganalisis kasus begal payudara . Bratingham mengidentifikasi wilayah yang ‘aman’ bagi pelaku untuk beraksi sesuai dengan karakteristik pelaku dan korban.



Penjelasan mengenai pelaku dan korban di atas jelas menunjukkan pola pelaku kejahatan begal payudara. Pelaku telah memperhitungkan sebelum tertangkap sehingga melakukannya di saat sepi dan memanfaatkan korban yang tidak akan memperkirakan. Korban biasanya akan terkejut dan tidak bisa berbuat apa-apa. (Baca juga: Dokter Yunani Ungkap Rahasia Vaksin Covid-19 Buatan Rusia)
halaman ke-1 dari 2
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top