alexametrics

Puluhan Kepala Sekolah Ikuti Pelatihan Gerakan Sekolah Menyenangkan

loading...
Puluhan Kepala Sekolah Ikuti Pelatihan Gerakan Sekolah Menyenangkan
Puluhan kepala sekolah mengikuti training pengawas gerakan sekolah menyenangkan (GSM), di Pendopo Bupati Tangerang.Foto/SINDOnews/Hasan Kurniawan
A+ A-
TANGERANG - Puluhan kepala sekolah di Kabupaten Tangerang, mengikuti training pengawas gerakan sekolah menyenangkan (GSM), di Pendopo Bupati Tangerang. Setelah mengikuti training, sebanyak 70 kepala sekolah negeri, swasta, dan madrasah di Kabupaten Tangerang ini akan dijadikan sebagai agen GSM untuk mengembangkan sekolah rintisan yang ada.

Pendiri GSM, M. Nur Rizal mengatakan, ada sebanyak 200 sekolah rintisan GSM yang tersebar di Kabupatan Tangerang. Jumlah ini belum termasuk sekolah yang didampingi. "Kalau sekolah model atau rintisan akan ada evaluasi setiap satu tahunnya. Kalau ditambah sekolah yang didampingi rintisan, mungkin jumlahnya 500-1.000 sekolah," kata Rizal kepada SINDOnews Selasa (3/12/2019).

Sekolah-sekolah itu, lanjut Rizal, tidak hanya di Kabupaten Tangerang, tetapi juga di Kota Tangerang Selatan."Nah, sekarang ini kita memberikan pelatihan kepada 70 kepala sekolah atau pengawas di Kabupaten Tangerang. Para pengawas ini langsung ditunjuk oleh kepala dinas. Satu pengawas bisa mengawasi 15-20 sekolah," ujarnya.



Rizal menuturkan, training ini sangat penting untuk mengubah pola pikir tenaga penggerak GSM di sekolah rintisan, dan juga dalam membangun ekosistem GSM di Tangerang. Sehingga, diharapkan akan terjadi perubahan pada orientasi kebijakan, dan paradigma pendidikan baru di Kabupaten Tangerang.

Para pengajar ini, menurut Rizal, sudah terbiasa dengan sistem lama yang dalam GSM dinilai sudah tidak sesuai zaman. Dengan pola GSM, mereka diharapkan melompat ke pola atau sistem pengajaran baru yang membebaskan.

"Tidak hanya pola pikir, tapi perubahan perilaku pengawasan mereka dari sekedar untuk mengawasi dan admistrasi, menjadi perilaku inovator perubahan di sekolah," tuturnya.

Dedikitnya ada empat area perubahan dalam GSM. Pertama lingkungan belajar yang positif, perubahan sistem belajar yang mengarah pada pemecahan masalah."Perubahan diproses belajar, siswa tidak lagi dibebankan pada ulangan dan hafalan. Tetapi pada problem solving dengan proyek sederhana. Ketiga pengembangan perubahan karakter siswa di sekolah," ungkapnya.

Terakhir, sekolah sebagai ekologi sosial. Sehingga, para siswa menjadi betah di sekolah dan berinteraksi dengan sesama siswa dan guru, serta lingkungan sekolahnya.

Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Kabupaten Tangerang Syaifullah menambahkan, sangat setuju dengan GSM, karena saat ini bukan masanya siswa dipaksa belajar di kelas dengan tekanan dari gurunya."Sekarang bukan zamannya lagi siswa dituntun terus oleh guru. Para guru juga harus berinovasi dan berkreasi lagi, mengembangka karakter siswa," paparnya.

Di Kabupatan Tangerang, lanjut dia, Bupati Ahmed Zaki Iskandar juga memiliki program pendidikan yang kurang lebih sama dengan yang dikembangkan oleh GSM. Terutama dalam mengembangkan SDM berkualitas.

"Pak Bupati juga meminta kepada sekolah untuk memperkuat karakter siswa. Untuk itu, butuh pengawas, baik di sekolah negeri dan swasta. Karena peningkatan kualitas guru tidak melihat PNS dan honorer," ucapnya.
(whb)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak