alexametrics

Cegah Warganya Penyakitan, Pemkot Bogor Perbanyak Fasilitas Publik

loading...
Cegah Warganya Penyakitan, Pemkot Bogor Perbanyak Fasilitas Publik
Foto: Ilustrasi/SINDOnews/Dok
A+ A-
BOGOR - Masih tingginya angka kematian akibat penyakit tidak menular di kalangan masyarakat perkotaan, kini menjadi sorotan. Bahkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO), sempat merilis data terbaru tentang peningkatan kematian di kalangan masyarakat urban serta mendorong kepala daerah aktif membuat kebijakan dalam menekannya.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengaku serius terkait pengurangan angka kematian warganya yang diakibatkan penyakit tak menular. Bahkan sebelum WHO merilis data terbaru tentang hasil penelitian yang menyebutkan angka kematian masyarakat urban meningkat, pihaknya sudah dan sedang menjalankan program pembangunan yang arahnya menyehatkan publik.

"Intinya, pembangunan kota harus diarahkan kepada pencegahan agar masyarakat sehat. Selain mengajak masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas publik berupa sarana prasarana berkegiatan di luar ruangan, juga kita terus membangun bahkan memperluasnya," ujar Dedie saat dikonfirmasi, Rabu (6/11/2019).



Ia mencontohkan, sarana prasarana publik yang sudah dan sedang diperluas titiknya hingga saat ini yakni pedestrian (fasilitas pejalan kaki dan olahraga lari), bukan hanya di sekitar Kebun Raya Bogor atau pusat kota saja. "Jadi pedestrian itu selain sebagai sarana penghubung orang dari titik ke titik tujuan, juga sebagai bagian dari upaya mendorong masyarakat untuk merubah pola hidup sehat dengan berolahraga," ujarnya.

Tak hanya itu, kata dia, pihaknya juga akan memperbanyak taman sebagai sebagai tempat rekreasi yang dampaknya meminimalisir stres. "Termasuk menata kawasan, sanitasi lingkungan serta penghijauan. Artinya, metode preventif menjadi penting dibanding kuratif. Itulah yang akan terus kita upayakan. Sehingga nantinya angka kematian akibat penyakit tak menular di Kota Bogor ini berkurang," paparnya.

Sementara itu, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bogor pada 2017-2018, angka kematian akibat penyakit tidak menular trennya menurun. Namun demikian, setiap tahunnya kematian warga Kota Bogor didominasi oleh penyakit tak menular berupa diabetes mellitus disusul jantung koroner.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor dr Ruabeah sempat menyampaikan jumlah kasus penyakit tak menular dari 2017 ke 2018 meningkat, namun angka kematiannya berkurang. "Kasus penyakit tidak menular data dari puskesmas dan rumas sakit, pada 2017 jumlah totalnya yakni 58.090 kasus dengan jumlah kematian 682. Iya diabetes mellitus dan jantung koroner penyumbang kematian terbesar dari 16 penyakit tak menular lainnya," jelasnya.

Kemudian, pada 2018, jumlah kasus penyakit tidak menular sebanyak 66.218 kasus. Dengan jumlah total kematian dari 16 penyakit tidak menular yang didata itu menurun dibandingkan tahun sebelumnya yakni 357 orang.

"Dari 16 penyakit tidak menular dari tahun ke tahun paling banyak diabetes mellitus. Pada 2017 dari 7.731 kasus sebanyak 87 orang meninggal dunia. Disusul jantung koroner dari 635 kasus, 96 meninggal. Sedangkan tahun lalu jumlahnya meningkat dari 13.684 kasus diabetes mellitus tapi menurun angka kematiannya yakni 47 orang saja, dan jantung koroner dari 576 kasus, 28 orang yang meninggal, sama dengan stroke," tukasnya.
(thm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak