alexametrics

Dipermak Senior Gangster Sekolah, 9 Siswa SMP di Tangsel Bonyok

loading...
Dipermak Senior Gangster Sekolah, 9 Siswa SMP di Tangsel Bonyok
Sembilan pelajar Kelas 2 SMP Madrasah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) bonyok usai dianiaya oleh 5 orang seniornya. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
TANGERANG SELATAN - Sembilan pelajar Kelas 2 SMP Madrasah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) bonyok usai dianiaya oleh 5 orang seniornya.

Kesembilan korban mendapat penganiayaan dengan cara diinjak kepalanya, ditampar, dipukul dada dan wajahnya, dipaksa tawuran, disuruh minum minuman keras (miras), dan dipaksa matikan bara rokok dengan lidah. (Baca juga: Pelaku Perusak Sekolah dan Pembacok Pelajar hingga Tewas Ditangkap)

Kekerasan yang terjadi di kalangan pelajar SMP Madrasah Pembangunan ini terungkap setelah korban melapor kepada orangtuanya, dan orangtua korban melaporkan ke polisi.



Iqbal, salah satu orangtua korban mengaku, pernah suatu kali melihat anaknya pulang sekolah dengan kondisi pipi merah memar. Namun, saat ditanya mengenai luka tersebut, anaknya mengaku akibat benturan futsal.

Namun, Iqbal tidak langsung percaya. Hingga akhirnya orangtua korban lainnya bercerita, bahwa anaknya juga menjadi korban penganiayaan bersama dengan anak lainnya.

"Saya baru tahu Sabtu lalu dari para orangtua korban lainnya. Ternyata, luka memar di pipi anak saya akibat ditampar oleh seniornya yang saat ini sudah alumni di kantin sekolah," kata Iqbal, Minggu sore (3/11/2019).

Dalam pertemuan dengan para orangtua korban lainnya, terungkap bahwa penganiayaan dilakukan sebagai syarat untuk menjadi calon anggota gangster Vembajak. (Baca juga: Terlibat Tawuran di Sawangan, Seorang Pelajar SMA Tewas Terkena Celurit)

"Jadi ternyata, anak saya dengan temannya dipalak, digebuki, dicekoki rokok, dan dicekoki miras sama alumninya. Kalau anak saya ditabok sama ditendang punggungnya. Kejadian tanggal 14 Oktober lalu," paparnya.

Sehari kemudian, tanggal 15 Oktober, Iqbal mengaku anaknya kembali ditatar yang merupakan sebutan pelaku untuk korbannya yang dianggap sebagai calon anggota geng.

"Tanggal 14 itu, anak saya ditatar dari jam 6 sore sampai jam 8 malam. Tanggal 15-nya, ditatar lagi di kantin sekolah, karena saat penataran di rumah pemimpin pelaku, anak saya tidak bisa datang," sambung Iqbal lagi.

Di kantin, kata Iqbal, tidak hanya anaknya saja yang ditatar. Tetapi ada tiga orang lainnya, hingga jumlah menjadi empat orang. Mereka, masing-masing mendapat kekerasan fisik.

Sementara lima siswa lainnya yang datang ke rumah otak pelaku, di kawasan Ciputat, ditatar habis-habisan oleh kelima pelaku yang sudah berkumpul, seperti dipukul, ditendang, diinjak kepala, dan matikan bara pakai lidah.

Dilanjutkan Iqbal, untuk berkomunikasi satu dengan yang lain, gangster ini memanfaatkan grup di media sosial. Dari percakapan di grup dan akun para korban, terungkap bahwa gengster Vembajak ini terobsesi kekerasan.

"Anak saya juga disuruh ngumpulin duit dan teman-temannya. Setoran seminggu Rp80 ribu perorang. Nah, itu duitnya buat beli gir, celurit, inex (miras). Jika ingin tawuran, maka digrup diberi kode 'partai'," ungkap Iqbal.

Setelah bermusyawarah dengan orangtua korban lainnya, mereka pun bersepakat untuk membawa persoalan ini ke ranah hukum untuk memberikan efek jera kepada pelaku. (Baca juga: Satu Tersangka Perkelahian Pelajar ala Gladiator di Bogor Kabur)

Kanit Reskrim Polsek Ciputat Iptu Erwin S mengatakan, korban yang sudah melapor ada sebanyak sembilan orang. Diduga masih banyak korban lainnya. Terdiri dari MD, AD, KSN, RJH, JS, MSY, NA, FN, dan terakhir MFM.

"Sedangkan pelaku ada lima orang, yakni H, R, FA, DAD, dan K. Kelimanya kini duduk di bangku Kelas 1 SMA. Ini rencananya mau kita limpahkan ke unit PPA mas," jelas Erwin.
(shf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak