alexametrics

PT BA Tak Bisa Tempati Kantor di Kuningan Place

loading...
PT BA Tak Bisa Tempati Kantor di Kuningan Place
Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Berhati-hatilah jika ingin membeli apartemen. Karena jika tak hati-hati, maka hal itu akan dapat merugikan anda. Seperti yang dialami oleh PT. Brahma Adhiwidia (PT BA).

PT BA sejak awal membeli ruang kantor akan tetapi yang diterima justru Auditorium. Sehingga, ruang kantor itu sampai saat ini tidak bisa digunakan sebagai kantor oleh PT BA di lantai 7 dan 8 Lumina Tower, The Kuningan Place.

Celakanya, pengembang The Kuningan Place yakni PT Kemuliaan Megah Perkasa ( PT.KMP ) secara diam-diam tanpa seizin PT BA, mengubah-ubah peruntukkan bangunan tersebut menjadi fungsi sekolah. Padahal bangunan seluas 2.000 meter persegi yang telah dibeli seharga Rp34,661,426,800,-pada November 2011 dari pihak pengembang, yakni PT.KMP ditawarkan dan dijual sebagai Ruang Perkantoran.



Dalam sidang Perkara Pidana yang telah digelar di PN Jakarta Selatan, pada tanggal 15 Juli 2019, Majelis Hakim yang diketuai Asiady Sembiring telah memutuskan bahwa Yusuf Valent selaku Dirut PT Kemuliaan Megah Perkasa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penipuan atas perbuatan menjual unit ruang kantor yang ternyata adalah auditorium, dengan menjatuhkan vonis sembilan bulan penjara dengan masa percobaan 1,5 tahun. Vonis ini lebih ringan dari tuntutan jaksa Penuntut Umum selama satu tahun penjara, padahal tuntutan Jaksa sudah sangat ringan dibandingkan dengan perbuatan terdakwa yang merugikan konsumennya.

Perkara tersebut kini menunggu putusan Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Jakarta dengan harapan memperoleh keadilan, mengingat akibat dari penipuan tersebut hingga saat ini PT BA telah mengalami kerugian mencapai lebih dari Rp100 miliar.

Kuasa hukum PT BA, Andreas FK berharap, Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Jakarta bertindak objektif, meneliti, menggali informasi, menimbang dan membuat keputusan dengan sangat cermat, menggunakan hati nurani, memberi hukuman setimpal atas perbuatannya dan menghukum terdakwa dengan efek jera.

Lebih lanjut, Andreas FK menyampaikan, bahwa kliennya sebagai konsumen benar-benar merasa tertipu dan dirugikan. Kliennya, kata dia, tidak bisa menggunakan ruangan yang telah dibelinya akibat ketidaksesuaian antara peruntukkan bangunan yang dijual dan izin yang diajukan pengembang The Kuningan Place.

Ternyata unit ruang kantor komersial yang dijual dan dipasarkan Direktur Utama PT KMP, Yusuf Valent bersama Indri Gautama ijinnya berupa auditorium yang merupakan bagian dari fasilitas hunian, hal itu terungkap dari keterangan saksi ahli yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum, yakni staf Bidang Pengawasan Bangunan Dinas Cipta Karya DKI Jakarta, YA, dalam sidang dugaan tindak pidana penipuan dengan terdakwa Yusuf Valent di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu ( 13/2/2019).

"Jadi, bagaimana klien kami mau menempati ruangan bila dasarnya saja sudah ditipu sejak awal, yakni IMB yang diajukan oleh pengembang tidak sesuai peruntukkannya. Akibatnya sampai sekarang Klien kami juga tidak bisa menggunakan area yang telah beli 8 tahun lalu itu sebagai kantor," katanya dalam keterangannya, Minggu (29/9/2019).

Persoalan bertambah pelik karena pengembang pernah mengubah peruntukkan menjadi sekolah, padahal PT BA sebagai pemilik unit tersebut tidak pernah diberi tahu dan tidak pernah memberikan persetujuan tentang hal ini. Kami berharap Hakim dapat memutuskan dengat cermat atas perbuatan mereka yang sudah sangat jelas merupakan tindak pidana penipuan.
(mhd)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak