alexametrics

Bayi di Depok Diduga Korban Pemberian Obat Kadaluwarsa

loading...
Bayi di Depok Diduga Korban Pemberian Obat Kadaluwarsa
Foto: Ilustrasi/SINDOnews/Dok
A+ A-
DEPOK - Seorang bayi berusia tiga bulan diduga menjadi korban pemberian obat kadaluwarsa dari puskesmas di Kota Depok. Bayi malang itu awalnya didiagnosa menderita sakit demam dan batuk.

"Obatnya dari puskesmas, karena anak saya sakit demam dan batuk. Setelah diperiksa oleh dokter saya langsung ke bagian farmasi untuk mengambil obat," ujar N, orang tua balita, Kamis (26/9/2019).

Ketika sampai di rumah, N belum memberikan obat tersebut kepada anaknya. Sebab masih ada sisa obat sebelumnya yang masih ada. "Untungnya belum diminum, masih minum obat yang lama. Nah pada saat tiga hari kan obat yang lama habis, akhirnya saya mau memberikan obat yang baru dari puskesmas. Eh pas saya periksa obatnya ternyata sudah kadaluwarsa," bebernya.



Sepekan kemudian, dia kembali berobat ke puskesmas itu karena anaknya mengalami gatal-gatal di bagian kulit. Kemudian dia diberi salep dan digunakan dengan cara dioleskan ke bagian kulit kepala anaknya.

"Bukan tambah sembuh malah tambah sakit sampai anak saya kulit belakang kepala kemerahan dan terkelupas," ucapnya. (Baca juga: Puskesmas Berikan Obat Kadaluarsa ke Pasien, Dinkes Depok Turun Tangan)

Dia kemudian membawa anaknya ke dokter lain. Dia kaget ketika salep yang diberi dari puskesmas adalah salep untuk dewasa. "Akhirnya saya bawa ke dokter spesialis di Beji Timur. Dari sana mengatakan bahwa obat Salep itu ternyata untuk dewasa," tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Novarita menuturkan, hal itu murni kelalaian. Sesuai prosedur, petugas harus mengecek tanggal kadaluarsanya. "Petugas puskesmas wajib memberitahukan mengenai tata cara penggunaan. Tidak langsung, dilepas begitu saja," katanya.

Dia mengklaim pendistribusian obat-obatan yang masuk ke puskesmas di Kota Depok tak luput dari pengawasan. "Kami cek SOP-nya memang begitu, tapi untuk kasus yang ini memang murni kelalaian," tukasnya.

Novarita menegaskan, tindakan tegas berupa peneguran dan sanksi telah diberikan terhadap kedua puskesmas tersebut. Ke depan pengecekan obat - obatan akan rutin digelar, untuk mengantisipasi kejadian serupa. "Pembinaan juga kami berikan untuk kedua puskesmas itu," ucapnya.

Perihal salep yang diberikan kepada balita hingga menyebabkan penyakitnya meluas, Novarita menyatakan belum mengetahui secara pasti. "Saya belum tau salep itu. Saya dapat informasi hanya masalah obat kadaluwarsa dan itu yang dibahas," pungkasnya.
(thm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak