alexametrics

Selama 3 Bulan, Polda Metro Gulung 10 Pelaku Penggelapan Mobil Kredit

loading...
Selama 3 Bulan, Polda Metro Gulung 10 Pelaku Penggelapan Mobil Kredit
Foto/SINDOnews/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Polda Metro Jaya menangkap sebanyak 10 pelaku penggelapan mobil selama Juli hingga September 2019. Dari 10 pelaku yang berasal dari kelompok berbeda itu, polisi mengamankan 29 unit mobil.

Ke-10 orang tersangka itu berinisial AKM (32), S (43), HIJ (31), BHG (25), RS (23) dan I (34), MY (30), RH (36), AR (25) dan BFR (33)."Mereka ini berasal dari lima kelompok berbeda. Dalam melakukan aksinya, mereka menjalankan modus yang berbeda-beda," ungkap Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono kepada wartawan Rabu (18/9/2019).

Argo menuturkan, AKM dan S melakukan penggelapan mobil di perusahaan pembiayaan dengan memakai identitas dan dokumen palsu agar bisa kredit mobil. Setelah dapat mobil, dijual dengan harga di bawah standar.



AKM dan S diciduk di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Lalu, HIJ melakukan penggelapan dengan cara menyewa mobil ke temannya, tapi mobil itu akhirnya digadaikan ke orang lain seharga Rp30 juta. HIJ ditangkap polisi di kawasan Tangerang.

"Tersangka lainnya, modusnya ada yang menjual mobil dengan harga di bawah standar tanpa dilengkapi surat kendaraan sah. Rata-rata korban yang membeli ini dirayu dahulu oleh mereka, katanya gampang nanti soal urus BPKB-nya," tuturnya.

Namun setelah dibeli, BPKB itu tak kunjung diberikan lantaran memang ada di perusahaan pembiayaan. Lalu, ada juga yang ditangkap di kawasan Jakarta Selatan karena menjadi penjual kendaraan hasil curian, seperti MY, RH, AR, dan BFR.

"Jadi masih ada lagi beberapa orang yang berstatus DPO, yang mana sedang dilakukan pengejaran," ucapnya. Para pelaku akan dijerat Pasal 372 KUHP tentang Jaminan Fidusia dan Pasal 480 dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.
(whb)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak