alexametrics

Ganjil Genap di 25 Ruas Jalan Diyakini Mampu Tekan Kemacetan hingga 40%

loading...
Ganjil Genap di 25 Ruas Jalan Diyakini Mampu Tekan Kemacetan hingga 40%
Puluhan ribu kendaraan terjebak kemacetan saat jam pulang kantor di kawasan Jalan Gatot Subroto dan tol dalam kota. Foto: Ilustrasi/SINDOnews/Dok
A+ A-
JAKARTA - Sistem ganjil genap yang diberlakukan di 25 ruas jalan Jakarta dipercaya dapat menurunkan tingkat kemacetan lalu lintas di Ibu Kota hingga 40 persen. Sebab nomor kendaraan ganjil dan genap yang mengaspal di Jakarta jumlahnya nyaris sama.

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo, mengatakan, pada hari pertama sosialisasi perluasan ganjil genap hari in, pihaknya mendapat laporan banyak kendaraan yang sudah mengetahui adanya pemberlakuan aturan baru itu. Namun masih ada memang yang belum mengetahui dan bingung mencari jalan alternatif.

Untuk itu, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi selama masa uji coba dengan berbagai cara. Di antaranya melalui media sosial, media elektronik dan cetak, flyer, spanduk dan sebagainya mengenai perluasan ganjil genap dan layanan angkutan umumnya.



"Hari ini sampai Minggu (12/8/2019) kami akan gencarkan sosialisasi dan perlengkapan rambu-rambu," ujar Syafrin di kawasan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (9/8/2019). (Baca juga: DKI Tetapkan 16 Ruas Jalan Baru Terkena Aturan Ganjil Genap)

Syafrin memprediksi sistem ganjil genap di 25 ruas jalan akan menurunkan tingkat kemacetan hingga 40 persen. Sebab nomor kendaraan ganjil dan genap berbanding 50-50 persen. Apabila ada pembelian kendaraan baru dengan nomor ganjil genap, diprediksi hanya sekitar 10 persen. Artinya, apabila ada kendaraan melintas di hari ganjil genap, paling hanya sekitar 60 persen.

Syafrin sengaja dalam sosialisasi tidak mencantumkan jalur alternatif dan memilih untuk meningkatkan layanan angkutan umum yang jelas sudah ada di 25 ruas jalan koridor tersebut. Dengan demikian, kemacetan khusus di ruas jalan ganjil genap dapat berkurang hingga 40 persen.

"Kami ingin merubah mindset masyarakat pengendara pribadi dari yang bertanya lewat mana, menjadi naik apa. Kami pastikan angkutan umum terlayani dengan baik di koridor ganjil genap. Apalagi dalam waktu dekat akan ada penambahan 59 bus gandeng," ungkapnya. (Baca juga: Dishub DKI Sebut Koridor Ganjil Genap Tersedia Angkutan Umum)

Dia berharap pengguna kendaraan tidak mencoba-coba memalsukan nomor polisi kendaraan. Sebab, pasalnya bisa dikenakan berlapis yaitu pelanggaran dan pidana penipuan.

Ganjil Genap di 25 Ruas Jalan Diyakini Mampu Tekan Kemacetan hingga 40%


Sementara itu, Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), Agung Wicaksono, mengatakan, pelayanan, waktu tempuh, hingga kemudahan menjangkau angkutan umum menjadi alasan masyarakat memilih moda transportasi publik dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi, baik itu mobil maupun sepeda motor.

Pada 2018, kata Agung, PT Transjakarta melayani 189,77 juta pelanggan atau naik 31% dibandingkan tahun sebelumnya yang mengangkut 144,72 juta penumpang. Pencapaian prestasi tersebut didukung dengan penambahan rute sebanyak 33 menjadi 155 di akhir 2018 dari yang sebelumnya hanya 122 layanan di 2017.

Selain itu, program integrasi moda transportasi Pemprov DKI Jakarta, Jak Lingko, juga berhasil meningkatkan jumlah penumpang angkutan umum melalui integrasi. Baik dari sisi manajemen, jaringan, dan standar pelayanan dengan merangkul para operator angkutan berbasis jalan yang bertrayek mulai dari bus besar, sedang, hingga kecil. (Baca juga: Integrasi Transjakarta, MRT, LRT, dan Commuter Line Mencakup Tiket)

Pada 2019 ini, Transjakarta menargetkan pelanggan mencapai 231 juta dengan 236 rute yang dilayani, atau meningkat sekitar 33 persen dibandingkan 2018 yang baru melayani 189,77 juta pelanggan. Pihaknya sudah melakukan pengintegrasian layanan dengan sejumlah moda transportasi. Seperti pembangunan fasilitas fisik interkoneksi antara halte Transjakarta dan stasiun MRT yang diawali dengan halte Bundaran HI dan Halte Tosari.

Kemudian dilanjutkan dengan halte CSW Sisingamangaraja dan Lebak Bulus. Serta konektivitas halte di Jalan Pemuda dengan Stasiun LRT Velodrome di Rawamangun, yang menjadi integrasi fisik antara Transjakarta dengan LRT. "2019 adalah momen untuk merealisasikan Transportasi Jakarta terintegrasi dengan seluruh moda transportasi," pungkasnya.

Sementara itu, anggota komisi B DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, meminta Pemprov DKI Jakarta mempercepat pelaksanaan Elektronik Road Pricing (ERP) sebagai sistem pengendalian lalu lintas. Sebab, apabila mengandalkan ganjil genap yang pengawasannya manual, kemacetan sulit dikendalikan. "Pengawasannya harus menggunakan teknologi untuk dapat memberikan efek jera," pungkasnya.
(thm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak